Jumat, 31 Maret 2017

Adiksi Narkoba, Secara Fisik Dan Psikologis


JENIS DAN SIFAT JAHAT NARKOBA

Pengguna yang sudah ketergantungan secara psikologis biasanya mudah gelisah atau cemas, karena adiksi, belum tenang kalau dia belum pakai (narkotika).
Masyarakat harus mengerti beberapa sifat jahat narkoba, anatara lain :

1. Habitual
Habitual adalah sifat narkoba yang membuat pemakainya selalu teringat untuk mencarinya dengan segala upaya. Karena itulah si pecandu sulit melepaskan diri dari ketergantungan pada narkoba. Sifat ini mendorong pemakai mencari narkoba dalam jumlah banyak agar tidak kehabisan.

2. Adiktif
Adiktif yaitu sifat narkoba yang mengakibatkan pemakainya terpaksa terus menggunakan narkoba. Bila dihentikan akan timbul efek putus zat yaitu perasaan sakit luar biasa atau sakaw.

3. Toleran
Toleran adalah sifat narkoba yang membuat tubuh pemakainya semakin menyatu dan menyesuaikan diri dengan narkoba itu, sehinga menuntuk dosis yang makin tinggi. bila dosisnya tidak dinaikkan reaksinya tidak terasa, tetapi membuat pemakainya semakin mengalami sakaw. Untuk memperoleh efek yang sama dengan masa sebelumnya maka dosis harus dinaikkan. Bila kenaikan itu telah melebihi kemampuan toleransi tubuh maka terjadilah efek sakit yang luar biasa dan mematikan. Kondisi seperti ini disebut "over dosis"
Dari uraian di atas jelas bahwa narkoba sangat berbahaya untuk dikonsumsi.



Gema Nusantara Anti Narkoba (Gentara) terpanggil menyuarakan gerakan anti narkoba karena dampak dari penyalahgunaan narkoba sangat berbahaya bagi masa depan generasi muda, selanjutnya bagi bangsa dan negara.

Tak hanya fisik, narkotika juga berdampak terhadap psikologis dan lingkungan sosial penggunanya. Hal itu yang membuat pengguna narkotika terus ingin mengkonsumsi barang haram tersebut.

Ketergantungan narkoba secara fisik dapat dipulihkan dengan detoksifikasi tubuh.


  • "Tapi, kalau ketergantungan psikologis akibat penyalahgunaan narkoba lama pemulihannya, karena (merasa) tidak bisa kalau belum pakai (narkotika)," ujar Le Putra Wakil Ketua Umum Gentara.


Dampak psikologis ini, tetap melekat meski pengguna menyadari bahwa yang dilakukannya adalah salah atau berdampak buruk bagi kesehatannya.

"Tapi, ada rasa dipikirannya kalau belum menggunakan, seperti ada yang kurang. Jadi ada perasaan seperti nagih atau ketergantungan," kata dia.


Yang tergolong  pecandu narkotika setelah dua tahun menggunakan narkotika.

Prores teraphi dan  rehabilitasi untuk pengguna akut, paling tidak perlu perawatan intensif rehabilitasi inap minimal 6 bulan. Pemulihannya, tiga tahun baru kuat. Lama memang, tetapi hasilnya maksimal.

Adapun efek yang ditimbulkan dari penggunaan narkotika yang digunakan itu yakni :
-  Stimulan (semangat),
-  Depresan (malas), dan
-  Halusinogen (berhalusinasi).

"Stimulan seperti sabu, karena membuat penggunanya semangat terus, depresan ini seperti ganja sintetis, dan halusinogen biasanya dari pil ekstasi," tuturnya.



Menurutnya, progresifitas adiksi atau toleransi tubuh terhadap zat narkotika yang semakin meningkat, tergantung dari masalah, frekuensi, intensitas, dan dosis pemakaian.

"Jadi awalnya coba-coba sedikit, terus jadi banyak, makanya narkoba itu bukan untuk coba coba," Tutup Le Putra

Bandar Narkoba Terkaya di Dunia


Bandar narkoba terkaya di dunia, memang para bandar narkoba kelas kakap bukanlah orang sembarangan, mereka mengendalikan jaringan luas dengan banyak bawahan. Mereka berani melanggar hukum namun sulit menyeret mereka ke pengadilan.

Amerika Serikat bahkah telah menghabiskan dana US$ 1 triliun untuk perang terhadap narkoba, namun gagal total. AS sempat berpikir untuk melegalkan narkoba supaya bisa untung besar khususnya dari pajak para bandar narkoba terkaya didunia.

Banyak faktor yang menyebabkan orang mau berjualan barang yang menyesatkan ini selain keuntungan yang melimpah, ada sudut pandang lain yang menyebabkan narkoba menjadi bagian dari gaya hidup modern khusus bagi orang suka dengan hiburan malam.

Tak heran jika barang yang satu ini membuat para bandar narkoba terkaya didunia banyak menyelundupkan barang-barangnya keseluruh penjuru dunia melalui kurir-kurir pilihannya. Dibawah ini adalah sedikit info mengenai bandar narkoba terkaya di dunia.

1. Khun sa
Raja opium ini memiliki kekayaan mencapai US$ 5 miliar. Pada tahun 70-80an sebanyak 90% pasokan herion ke New York diselundupkan dari Segitiga Emas di Asia yakni Laos, Myanmar dan Thailand.

Kerajaan heroinnya merupakan yang terbesar di dunia sampai saat ini. Khun Sa menawarkan kepada Australia sebesar US$ 50 juta per tahun selama 8 tahun agar Australia tidak memotong jalur pengiriman opiumnya ke AS. Namun Australia menolaknya karena tidak ingin dibayar oleh seorang penjahat.

Pada 1996 Khun Sa menyerahkan diri ke polisi Burma tapi ia tidak pernah diekstradisi dan melanjutkan hidup di Rangoon, dan meninggal pada 2007.

2. Ochoa Bersaudara
Kekayaan Ochoa bersaudara yakni Fabio, Jorge, dan Juan ini dari bisnis obat-obatan terlarang mencapai US$ 6 miliar.

Jorge pernah masuk daftar forber sebagai orang terkaya dengan memiliki kekayaan mencapai US$ 3 miliar. Ketiganya ditangkap pada 1999 karena menyelundupkan narkoba.

3. Amando Carrilllo Fuentes
Carrillo merupakan salah satu Bandar narkoba terkaya didunia dan paling top di Meksiko dengan kekayaan mencapai US$ 25 miliar. Ia merupakan salah satu orang paling dicari oleh pemerintah AS dan Meksiko, namun berhasil lolos karena menjalani operasi plastik. Pada 1997 Carrillio meninggal dunia.

4. Dawood Ibrahim
Bandar narkoba asal India ini memiliki kekayaan mencapai US$ 6,7 miliar, merupakan salah satu dari bandar narkoba didunia.

Dawood merupakan teroris global yang terkait dengan Osama Bin Laden. Perusahaannya dikabarkan mendanai industri film di India yang terkenal dengan julukan Bollywood. Sampai saat ini keberadaanya tidak pernah diketahui.

5. Pablo Escobar
Escobar merupakan pimpinan kartel narkoba paling berpengaruh pada jamannya. Bahkan pada tahun 1989, oleh majalah Forbes, Escobar menempati urutan nomer tujuh orang terkaya di dunia. Kekayaannya ditaksir mencapai US$ 30 miliar.

Escobar dituduh terkait melakukan ratusan pembunuhan. Escobar terlibat dalam politik dan dikenal untuk membantu kaum miskin di komunitasnya, kematiannya ditangisi oleh banyak orang, dan ia sejak itu telah diabadikan dalam film dan televisi.

Mantan Pecandu Narkoba yang Sukses Jadi Miliarder

Jeratan narkoba dan gaya hidup yang berantakan sukses menyeret kehidupan Khalil Rafati ke jurang kehancuran. Sebelum nasibnya berubah seperti sekarang, pria asal Amerika Serikat (AS) ini menjalani hidupnya sebagai seorang tunawisma.

Tak hanya sampai di situ, ia juga merupakan seorang pecandu narkoba akut. Khalil pernah mengalami overdosis hingga sembilan kali.

Semua bermula pada 2003. Khalil Rafati yang saat itu berusia 33 tahun mengalami overdosis akut akibat narkoba jenis kokain yang dikonsumsinya. Berat badan Khalil hanya 49 kilogram (kg). Dampak dari kokain tersebut, kulit dan sekujur tubuhnya pun penuh bisul.

Melansir BBC, Rabu (29/3/2017), Khalil memang memiliki keinginan untuk lepas dari jeratan narkoba. Sayangnya, ia selalu gagal untuk bisa lepas dari pengaruh obat-obatan terlarang tersebut.


Khalil Rafat saat jadi pecandu narkoba (foto: bbc.com)

Namun, setelah mengalami overdosis narkoba untuk yang kesembilan kalinya, ia akhirnya menyadari bahwa tidak ada orang lain yang bisa menyelamatkan dirinya selain dirinya sendiri.

Alhasil, ia pun menghabiskan waktu selama empat bulan di pusat rehabilitasi. Hasilnya, ia dinyatakan bebas dari ketergantungan narkoba sejak saat itu.

Khalil kemudian bertekad untuk menjalani hidup sehat. Bermula dari kebiasaan untuk mengkonsumsi makanan sehat, ia akhirnya membuat sebuah produk yang kini berhasil membawanya sebagai seorang miliarder.

Membangun Bisnis

Khalil sadar akan kehidupannya yang kelam. Ia pun bertekad untuk keluar dan bangkit untuk membangun hidup yang lebih baik.

Dibantu seorang temannya, Khalil pun diperkenalkan dengan minuman jus yang menyehatkan. Tak lama setelahnya, Rafati pun mulai membuat minuman itu untuk menghormati staf dan pasien yang ada di pusat rehabilitasinya dulu, Riviera.

”Teman saya itu sedikit hippie. Dia mengajarkan saya vitamin, makanan organik, dan superfood,” terangnya.

Pada 2007, kebiasaannya membuat makanan sehat pun mulai dijual. Dia membuka Riviera Recovery, pusat rehabilitasi sembari memperkenalkan produk buatannya. Bukan hanya menjajakan jusnya di pinggir jalan Los Angeles, Khalil juga memasok jus kepada tunawisma dan orang sakit, terutama pecandu narkoba.

Pada 2011, Khalil melaunching Sunlife Organics bersama temannya. Pembukaan pertama di Malibu dan langsung sukses besar.

Tahun pertama, dia membukukan pendapatan US$ 1 juta. Saat ini, Khalil punya 200 karyawan yang tersebar di enam gerai.

Yang lebih luar biasa, kesuksesan yang ia peroleh tak membuatnya sombong. Khalil dikenal sebagai bos yang dicintai semua karyawannya. Ia tak segan mengulurkan tangan bagi karyawan yang membutuhkan bantuan.

”Saya tidak menganggap saya super pintar. Tetapi saya ingin hidup dan saya menyerahkan semua usaha untuk melakukan yang terbaik,” kata Khalil (Vna/Gdn)

Kamis, 30 Maret 2017

Raker BNNP/BNNK, Sinkronisasi Pelaksanaan Rehabilitasi Di Wilayah Sumatera Utara





Dalam rangka sinkronisasi Pelaksanaan Rehabilitasi Di Wilayah Sumatera Utara  Tahun 2017. BNNP SUMUT Melaksanakan kegiatan Rapat tersebut yang di laksanakan di Ruangan Jamin Ginting,Hotel Polonia Medan pada tanggal 30-31 Maret 2017.

Di dalam kegiatan yang di buka langsung oleh Kepala BNNP SUMUT (Brigjend Pol Drs Andi Loedianto) di hadiri oleh seluruh kepala BNNK dan Kasi rehabilitasi se wilayah Sumatera Utara.

Didalam pembukaan tersebut Kepala BNNP SUMUT juga menyampaikan angka prevalensi di wilayah Sumatera Utara yang sudah mencapai 350.000 orang berdasarkan data dari puslitdatin BNN.

Dimana berdasarkan angka tersebut,Kepala BNNP SUMUT mengharapkan kepada seluruh kepala BNNK untuk aktif melakukan sinergitas ke Kabupaten/Kota yang ada di wilayah Sumatera Utara agar segera saling bersinergi mengenai permasalahan rehabilitasi tersebut.
Selanjutnya kepada seluruh Kepala  BNNK segera untuk bersinergi dan berkoordinasi dengan daerah tingkat II di dalam rangka penyusunan peraturan mengenai pembentukan SATGAS di Kabupaten/kota.

Di dalam penyampaian tersebut,juga membahas mengenai rencana aksi di bidang rehabilitasi serta program rehabilitasi yang di kelola oleh kelompok masyarakat.

Pertemuan Bupati Halbar dan Kepala BNNP

Bupati Halmahera Barat, Danny Missy siang tadi bertandang ke BNNP Malut untuk membahas upaya preventif Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba di kabupaten Halmahera Barat.

Kekhawatiran Danny akan permasalahan Narkoba disampaikan kepada Kepala BNNP Maluku Utara. menanggapi hal tersebut, Kepala BNNP Maluku Utara, Brigjen Pol. Drs. Richard M. Nainggolan, MM.MBA menyampaikan upaya preventif yang sedang digagas baik bersama pihak Pemerintah Provinsi Maluku Utara maupun dengan  kota Ternate​ dan Tidore Kepulauan  terkait kurikulum Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba yang dimulai dari tingkat PAUD sampai SMP. Kepala BNNP meyakinkan dengan pengetahuan yang cukup tentang bahaya Narkoba maka anak akan waspada dan menjaga dirinya dari rayuan para pengendar untuk mengkonsumsi Narkoba.

Bupati Danny berharap pihaknya dengan BNNP Maluku Utara akan bekerja sama terutama dalam upaya pencegahan penyalahgunaan Narkoba dan akan menghubungkan​ hal tersebut dengan Dinas Terkait.

Pertemuan ini juga dihadiri Inspektorat Wilayah 3, Inspektur Utama BNN RI, Edi Mulyono, SE, AK, MM yang mengapresiasi komitmen Danny dalam menjalankan misi P4GN di Kabupaten Halmahera Barat.

Inspektur Utama Edi Mulyono ke BNNP Maluku Utara dalam rangka mensosialisasikan Penyelenggaraan Instansi Pemerintah dan Pembinaan Pengawasan Internal dalam mewujudkan kinerja BNNP yang efektif dan efesien sesuai dengan tujuan dan sasaran pelaksanaan kegiatan  P4GN oleh BNNP Maluku Utara.




Lep

Ruslan, 5 TahunJadi Bandar, Raup Keuntungan Rp. 1,2 T


Tidak heran kenapa orang mau berbisnis Narkoba. Ternyata keuntungan nisnis narkoba memang menggiurkan. luar biasa keuntungan yang diperoleh pelaku sangat fantastis. Namun, bisnis semacam itu selain haram, juga melanggar hukum yang ada Indonesia.

Contoh kasus big bos narkoba bernama Ruslan Hasan alias Cullang (28). Selama kurang lebih lima tahun menjalankan bisnis haram tersebut, sedikitnya telah menjual 600 Kg narkotika jenis sabu.

Meski meraup keuntungan besar, namun tetap saja melanggar hukum. Alhasil, Direktorat Reserse Nakoba Polda Sulsel menembak mati, bandar besar narkoba tersebut di rumah kos di Jl Trans Mamuju-Palu Kecamatan Pasangkayu, Mamuju Utara.

Kabid Humas Polda Sulsel, Kombes Pol Dicky Sondani mengatakan, pelaku telah sekitar lima tahun menjalankan aksinya menjual barang haram tersebut. Cullang dapat diamankan karena sebelumnya Polda Sulsel berhasil mengungkap lima jaringan pengedar pelaku.

“Keberhasilan kita menangkap ini karena kita bisa mengungkap salah satu jaringannya. Kita sudah tangkap lima jaringannya, semua jaringannya mengaku mendapat barang itu dari Ruslan,” kata Dicky saat merilis kasus itu di Rs Bhayangkara, Rabu (29/3/17).

Selama lima tahun menjalankan aksinya ucap Dicky, angka penghasilan yang dapat di peroleh pelaku terbilang cukup fantastis. Barang haram tersebut di dapatkan dari jaringan internasional seperti Cina dan memasok barang itu dari pelabuhan.

“Barang itu dari Cina lewat Malaysia melalui jalur pelabuhan seperti di Soekarno Hatta dan Pelabuhan Pare-pare. Satu bulan saja dia bisa ambil barang 10 kilo, setahun 120 kilo, lima tahun 600 kilo, kalau dirupiahkan sekitar Rp1,2 triliun,” ucap Dicky.

Uniknya lanjut Dicky, pelaku yang merupakan bandar besar narkoba malah tidak menggunakan atau bukan pemakai narkoba.

“Anehnya ternyata pelaku tidak menggunakan narkoba. Tapi dia hanya suka minum Ballo,”lanjutnya. (jay/ris)

Selasa, 28 Maret 2017

Ruslan Bandar Besar Narkoba Makassar Tewas Tertembak



Habis sudah langkah Ruslan alias Cullang yang merupakan bos besar bandar Narkoba jenis sabu-sabu di Kota Makassar akhirnya tewas tertembak oleh pihak Polda Sulsel, Selasa (28/3/2017).

Ruslan meruoakan pemilik sabu 9,8 kg asal Tarakan, Kalimantan Utara yang diungkap Polres Pelabuhan Makassar pada 31 Desember 3017 lalu.

Dari informasi berhasil dihimpun, Cullang dikenal sebagai bandar besar pemasok narkoba di beberapa wilayah di Makassar dan sekitarnya. Bahkan pelaku sudah lama dicari aparat kepolisian Ditresnarkoba Polda Sulsel.

Sepak terjang Cullang yang kerap berpindah pindah lokasi tempat tinggal (Domisili) demi melancarkan barang haram tersebut.

Hingga berita ini diturunkan belum diketahui lokasi penangkapan terhadap Cullang. Namun jenazah Cullang telah berada di Rumah Sakit Bhayangkara Makassar, Jalan Mappaoddang Makassar.


“Keterangan lebih lanjutnya besok di Bhayangkara, Kapolda yang akan merilisnya jam 8 pagi,” singkat Kabid Humas Polda Sulsel, Kombes Pol Dicky Sondani. Rabu (29/3/2017).


Terlihat di RS Bhayangkara Makassar beberapa pejabat teras Polda Sulsel seperti, Ditrenarkoba Polda Sulsel Kombes Pol Eka Yudha, Ditreskrimum Polda Sulsel Kombes Pol Erwin Zadma dan beberapa anggota perwira lainnya

Senin, 27 Maret 2017

Residivis Pelaku Sembunyikan sabu 11 Kg Sabu Dalam Dinding Pintu Mobil Tewas Di Tembak.


Dua orang pelaku ditangkap, sedangkan satu lainnya ditindaktegas hingga tewas akibat melawan petugas. Hai itu diungkap BNN, sebuah jaringan narkotika internasional di wilayah Pontianak, Kalimantan Barat dengan barang bukti sabu seberat 11.076 gram.

Pengungkapan kasus ini merupakan hasil sinergi BNN RI, BNNP Kalbar dan Bea Cukai Kalbar.

Kepala BNN Komjen Budi Waseso menyatakan, pembongkaran kasus ini berawal dari adanya laporan masyarakat dan analisis intelijen tentang dugaan transaksi narkotika di Pontianak.

Pada tanggal 20 Maret 2017 akhirnya petugas menangkap GUS (31) dan WAH (21) sesaat setelah menyerahkan sabu kepada A (50) di Jalan Adi Sucipto, Simpang Tiga Sudarso, depan Terminal Oplet Sungai Raya, Kubu Raya Pontianak.

“Petugas langsung berusaha mengamankan A, namun pelaku melarikan diri dan melawan petugas sehingga ditindak tegas. A sempat dibawa ke rumah sakit namun tewas dalam perjalanan,” jelasnya saat menggelar jumpa pers di kantor BNN, Cawang, Senin (27/3).

Buwas menambahkan, menurut pengakuan GUS, dirinya sudah delapan kali menyelundupkan sabu selama 2017, sedangkan WAH telah tiga kali melakukan hal serupa.

Aksi kedua pelaku ini dikendalikan oleh YUD yang saat ini masih dalam pengejaran petugas (DPO).

Dari hasil pemeriksaan terhadap dua tersangka yaitu GUS dan WAH, keduanya diketahui berperan sebagai kurir yang membawa sabu dari Kuching, Sarawak, Malaysia ke Pontianak melalui Entikong dengan menggunakan kendaraan roda empat,” ujar Buwas.

Saat di Entikong, pelaku sempat berganti mobil dan kembali melanjutkan perjalanan menuju Pontianak.

Pelaku menyembunyikan sabu tersebut dalam dinding pintu mobil atau door trim.

Setibanya di Pontianak, kedua pelaku ini bertransaksi di Jalan AdiSucipto, depan terminal Oplet Sungai Raya, Pontianak dengan Apoh. GUS dan WAH berhasil ditangkap sedangkan A tewas karena melawan petugas.

Dari jaringan ini, petugas menyita 11 bungkus narkotika golongan 1 jenis sabu Kristal seberat 11.076 gram.

Selain itu, petugas juga menyita 1 unit mobil, 1 unit sepeda motor dan 9 unit telepon genggam.

“Penyitaan sabu seberat 11.076 gram ini setidaknya dapat menyelamatkan lebih dari 55 ribu anak bangsa dari penyalahgunaan narkoba,” imbuh Buwas.

Para tersangka diancam Pasal 114 ayat 2 Jo Pasal 132 ayat (1), Pasal 112 ayat 2 Jo Pasal 132 ayat (1) UU Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dengan ancaman maksimal pidana mati.

Ridho Rhoma Berhak Untuk Di Assesmen


Ridho Rhoma telah ditangkap oleh Satreskoba Polres Metro Jakarta Barat pada Jumat, 24 Maret 2017 karena mengonsumsi narkoba jenis sabu.

"Diharapkan tertangkapnya artis Ridho Rhoma harus menjadi entri point bagi BNN untuk ungkap beberapa pengedar dikalangan artis", harapan Ketua DPW Gentara Sumatra Utara Johannes, SE. Saat di hubungi melalui HP.

"Para pengedar melihat ada potensi pasar di kalangan artis, karena artis mampu membeli (ada uang), ada peluang besar, bisa jadi untuk pergaulan, untuk senang-senang, untuk melepas lelah, mereka jadi incaran pengedar", ujar Kabag Humas BNN Kombes Sulistiandriatmoko.

Di tempat terpisah sang ayahanda Ridho Rhoma uangkapkan, "Meski kecewa, Rhoma Irama tak ingin sang anak merasa bersalah.  Ridho  adalah korban karena maraknya peredaran obat-obat terlarang yang membahayakan nyawa manusia tersebut.

"Karena kamu (Ridho) ini korban. Saya juga masih bersyukur bahwa Ridho tertangkap (polisi) dalam kondisi dini ya. Sementara banyak sekali korban-korban jiwa yang meninggal dunia. Menurut data BNN, per hari 50 orang meninggal karena over dosis," kata Rhoma Irama, Senin (27/3/2017).

Rhoma Irama akan berupaya menyelamatkan sang anak dari narkoba dengan jalan profesional sesuai prosedur yang berlaku. Setelah mengetahui sang anak ditangkap.

Selanjutnya menurut Johannes, dalam penangkapan Ridho Rhoma dengan barang bukti sabu seberat 0,7 gram dan alat hisap. Walaupun penyidik Polres Metro Jakarta Barat menetapkan Ridho Rhoma sebagai tersangka dan dijerat Pasal 112 ayat (1) sub Pasal 127 Jo Pasal 132 ayat (1) Undang-Undang No 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Ridho Rhoma berhak di assesmen oleh Tim Assesmen Terpadu BNNK Jakarta Barat",  Pungkas nya..





LEP

Minggu, 26 Maret 2017

Sabu Digunakan Untuk Alasan Menambah Proses Kreatif.

Manusia memiliki kebutuhan alamiah untuk terikat dengan sesuatu. Saat bahagia dan sehat, kita akan mengikatkan diri dan berhubungan dengan satu sama lan. Namun ketika kita tidak dapat melakukan itu, baik karena adanya trauma, terisolasi atau memaksakan diri mengejar target ambisius sebuah pekerjaan atau sedang terpuruk, kita akan mengikatkan diri dengan sesuatu yang akan memberikan rasa lega.

Bisa jadi hal tersebut adalah sabu-sabu atau ganja. Keterikatan ini terjadi karena secara alamiah seseorang memang membutuhkannya.

Hal ini menggambarkan apabila kita memiliki kehidupan yang bahagia dan memiliki ikatan sosial yang kuat maka kita akan lebih cenderung menjauhi narkoba. Sebaliknya, jika kita merasa kesepian dan tertekan kita akan cenderung mengikatkan diri pada narkoba.


MENGAPA BANYAK ARTIS YANG MENGGUNAKAN ATAU MEMAKAI NARKOBA

Fenomena pemakaian narkoba jenis sabu dikalangan artis bukan hal yang baru. Termasuk kasus Ridho Rhoma. Anak kandung raja dangdut Rhoma Irama.

Kenapa banyak artis terjerat narkoba jenis sabu...?

Menurut Le Putra (Waketum Gema Nusantara Anti Narkoba), Sabu tergolong obat stimulan jenis metamfetamin, orang menggunakan zat ini untuk mendapatkan efek psikologis. Efek yang paling diinginkan adalah perasaan euforia sampai ekstase (senang yang sangat berlebihan). Obat ini juga menimbulkan efek meningkatnya kepercayaan diri, harga diri, dan peningkatan libido. Pemakai sabu bisa tampil penuh percaya diri tanpa ada perasaan malu sedikit pun dan menjadi orang yang berbeda kepribadian dari sebelumnya.

"Dari berbagai penelitian menunjukan bahwa pemakaian zat ini tidak diikuti dengan efek menurunnya kesadaran akibat zat tersebut (Sedasi). Tidak seperti pemakai heroin atau ganja, pemakai sabu dapat membuat dirinya untuk tetap membuat terjaga dan konsentrasi", jelas Le Putra

Para artis kebanyakan, tidak saja di Indonesia, menyukai pergaulan dan interaksi sosial yang glamour. Glamour di sini berkonotasi kehidupan hura-hura dan eksklusif.

Terseret atau tidaknya seorang artis dalam lingkaran setan peredaran dan penggunaan narkotika sangat tergantung sejauhmana sang artis menyikapi ketenarannya atau kejatuhannya dari puncak ketenaran. Efek yang timbul kerap sama. Tenar dan banyak uang untuk dihambur-hamburkan.

"Pemakai boleh dikatakan sebagai korban, boleh pula dikatakan sebagai orang yang bodoh dan dibodoh-bodohi. Bertolak dari sudut pandang ini tidak selayaknya masyarakat lantas menganggap mereka rendah", pungkas Le Putra

Lep

Kamis, 23 Maret 2017

GENTARA Siap Ambil Peran Penjangkauan



Gema Nusantara Anti Narkoba (Gentara) diundang audiensi ke BNN RI yang dikomandoi langsung oleh Ketua Umum Hendryanto Andrie.DH didampingi Le Putra (Waketum), Ir. Rizki Muis (Pembina Gentara) yang juga mantan Direkrur Budidaya Tanaman Rempah dan Penyegaran Ditjen Perkebunan Kementan RI juga Suparno (Ketua DPW Gentara Aceh), yang diterima Direktur Desiminasi Informasi Brigjen Pol. Drs. Suprayitno,  dan Deputi Pencegahan BNN RI  Irjen Pol. Drs. Ali Johardi  SH. Kamis (23/3/2017).

Deputi Pencegahan menyambut baik kedatangan Gentara. Dalam pertemuan tersebut, Ketua DPW Gentara Aceh Suparno memaparkan Program Alternative Development dalam pilot project yang sudah dilaksanakan di kawasan Lamteuba, Aceh Besar. Yaitu tanaman jagung yang dulunya petani nya adalah masyarakat petani Ganja seluas 30 Ha di kecamatan Lamteuba, Aceh Besar.

"Bagi petani, yang penting harga jual jagung mampu menutupi kebutuhan harga produksi mereka. Termasuk pemasaran yang jelas dengan harga jual dari Rp. 3.000/Kg", ungkap Suparno.

Menurut Hendryanto Andrie, Konversi masyarakat yang biasanya tanam ganja menjadi petani jagung ini membutuhkan kerja serius dan peran pemerintah agar tanaman ganja tidak ada lagi di Aceh.

"Gentara siap mengambil peran alternative development dan penjangkauan kepada masyarakat petani di Aceh, kami juga siap memberi pelatihan mulai dari tehnik penanaman hingga panen dalam kadar air yang dibutuhkan pabrik dan tidak berjamur" jelas Andrie.

Deputi Pencegahan BNN RI menjelaskan bahwa program Pemberdayaan Alternatif ini lagi dipersiapkan pelaksanaanya, diharapkan kementerian dan lembaga terjait dapat bersinergi, yang dapat dikoordinir oleh Kemenkopolhukkam dan BNN sebagai leading sector utk pelaksanaan di lapangan.

"BNN mengusulkan kepada pemerintah nantinya petani akan diberi bibit, kebutuhan pemeliharaan dan pemasaran, juga mencakup aspek  gratis, pendidikan gratis juga bea siswa", jelas Ali Johardi

"Program Alternative Development ini akan dilaksanakan dalam tahun 2017 in dan BNN sebagai pelaksanya", Tutup Ali Johardi





Lep

Kepala BNN didaulat Key Note Speaker pada Seminar Nasional di Ternate





Dalam upaya sinergitas implementasi program Pencegahan Pemberantasan dan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN) di Provinsi Maluku Utara, Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN), Komjen Pol. Budi Waseso,  didaulat sebagai Narasumber pada Seminar Nasional Penguatan Peran Civil Society dan Deklarasi Anti Narkoba Masyarakat Maluku Utara Deklarasi Anti Narkoba yang diselenggarakan  Universitas Muhammadiyah Ternate bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Maluku Utara dan BNNP Malut pada (23/03) bertempat di Grand Dafam Hotel Ternate.

Dalam paparannya, Komjen Budi Waseso mengingatkan kondisi Indonesia Darurat Narkoba ditandai dengan  jumlah pengguna yang meninggal setiap hari sekitar 51 - 57  orang, dan dalam sebulan mencapai dapat mencapai 150 ribu orang yang meninggal dunia di tahun 2016.

,"Upaya pencegahan  dan pengawasan pada tempat rawan masuknya narkotika, mengetahui jenis narkotika yang baru, dan  perubahan sosial budaya di masyarakat, sehingga dibutuhkan pemahaman yang menyeluruh sehingga upaya pencegahan sangat penting,  karena jika seseorang sudah menggunakan narkotika maka terjerat, dan jika ketergantungan maka tidak mudah lepas," Kata pria yang akrab disapa Buwas ini.

Menurut Buwas, Maluku Utara termasuk wilayah yang cukup rawan terjadinya penyelundupan narkoba melalui jalur laut dengan jumlah pengguna mencapai 14.988 berdasarkan data prevalensi penyalah guna narkoba hasil penelitian BNN – Puslitkes UI tahun 2014.

Dalam diskusi bersama Kepala BNN,  Sultan Tidore, Husein Syah  dan Kapolda Maluku Utara, Brigjen Tugas Dwi Apriyanto,  ketiganya menyatakan komitmen dalam  upaya preventif Pencegahan dan pemberantasan Narkoba di provinsi seribu pulau ini.

Kehadiran Sultan Tidore yang mendukung penuh upaya Pencegahan dan Pemberantasan Narkoba dengan pendekatan kultural dan adat dengan kearifan lokal dan mengingatkan Masyarakat Maluku Utara memiliki budaya "merasai" yang menyentuh hati dan rasa sehingga malu jika berbuat salah termasuk menggunakan narkoba.

Seminar yang juga diisi dengan Pernyataan dan Penandatanganan Deklarasi Anti Narkoba Masyarakat Maluku Utara oleh Perwakilan Pemerintah Daerah, Perwakilan Kesultanan, Unsur Forkorpimda, Perwakilan Forum Rektor, unsur Ormas dan Unsur Mahasiswa dihadapan Kepala BNN ini berisi pernyataan perang terhadap penyalahgunaan narkoba dalam menyelamatkan generasi penerus Maluku Utara, Mendukung program pemberdayaan masyarakat serta ikut berperan dalam upaya Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba yang disaksikan kepala BNN.

Komjen Budi Waseso pada kesempatan ini juga dianugerahi penghargaan Ummu Award bersama kepala BNNP Maluku Utara,  Richard M. Nainggolan, MM.MBA Jogugu/Perdana Menteri Kesultanan Ternate, M. Zulkiram atas dedikasi dan pengabdian dalam Pencegahan dan Pemberantasan Narkoba di Maluku Utara dihadapan peserta yang berjumlah lebih kurang 1000 orang ini dan di kesempatan ini juga dilakukan penandatanganan MoU antara Universitas Khairun Ternate yang diwakili Rektor dengan Kepala BNNP Maluku Utara.










Lep

IRONIS, 27 Tersangka Pengedar Narkoba di Depok Itu Pelajar


Sikap pantang mundur yang diperlihatkan Polresta Depok, dengan mengamankan sebanyak 27 tersangka peredaran narkoba di kalangan pelajar hingga pegawai swasta. Modus yang digunakan para pelaku pun beragam, salah satunya ialah dengan menggunakan bungkus kopi sachet.

Kasat Narkoba Polresta Depok, Komisaris Polisi Putu Kholis Aryana mengungkapkan, dari 27 tersangka tersebut, pihaknya menyita sebanyak 1.056,39 Gram ganja dan 9,57 Gram narkoba jenis sabu.

“Dari 24 kasus yang kami ungkap, 18 di antaranya adalah pelaku sabu, sisanya ganja. Profesi tersangka beragam, ada yang mahasiswa, pelajar, pegawai swasta hingga oknum anggota DPRD Depok. Ini merupakan hasil operasi kami selama satu bulan terakhir,” kata Putu Kholis kepada awak media di Mapolresta Depok, Jawa Barat, Rabu 22 Maret 2017.

"Dari puluhan kasus tersebut modus yang digunakan para tersangka beragam. Ada yang menggunakan modus pengiriman secara online, manual hingga menggunakan bungkus kopi untuk mengelabui petugas. Per bungkus kopi, ganja tersebut dijual tersangka dengan kisaran di atas Rp200 ribu", Lanjut Kasat Narkoba.

“Yang disimpan di bungkus kopi sachet adalah narkoba jenis ganja dengan tersangka atas nama Yanto. Modus ini digunakan tersangka untuk mengelabui petugas. Harga jualnya bervariatif, tergantung pemesanan,” kata Putu.

Penangkapan ini, lanjutnya, akan terus dikembangkan sebab ada beberapa tersangka yang masih perlu digali keterangannya. “Bukan tidak mungkin, jumlah pelaku pun akan terus bertambah," katanya. (asp)

Kalbar Target Pasar Narkoba Jaringan Internasional


Ironis. Kini Provinsi Kalimantan Barat, menjadi sasaran pasar narkoba jaringan internasional karena berbatasan dengan negara tetangga, baik dari darat dan laut, kata Deputi Badan Narkotika Nasional RI, Irjen (Pol) Arman Depari.

"Saya mencatat negara Malaysia adalah salah satu pemasok terbesar ke Indonesia, khususnya ke Kalbar," kata Arman Depari di Pontianak, Rabu (22/3).

Ia menjelaskan, ada beberapa faktor yang menyebabkan Kalbar dan Indonesia umumnya menjadi sasaran pasar narkoba, seperti karena kurang pedulinya seluruh komponen masyarakat Indonesia atau pengawasan yang lemah.

"Hal ini juga bisa karena ketidak pedulian dari negara tetangga, sehingga komitmen negara-negara ASEAN untuk bebas dari narkoba ini tidak dipatuhi. Mungkin juga memang karena petugas atau otoritas yang menangani kasus-kasus narkoba ini kurang kompetensinya," ungkapnya.

Ia menambahkan, seperti keberhasilan tim gabungan dalam menggagalkan upaya penyeludupan 11 kilogram sabu-sabu dan diamankannya empat pelaku satu diantaranya tewas ditembak.

"Upaya digagalkannya penyeludupan barang haram tersebut, bukan yang pertama yang masuk dari negara tetangga, melainkan sudah berulang dan berkali-kali," ujarnya.

Ia mencatat, sejak Januari hingga Maret 2017 saja, di Polda dan BNNP Kalbar sudah menyita sebanyak 32 kilogram narkoba jenis sabu-sabu. "Sedangkan kami BNN pusat sudah bolak balik di Kalbar, seperti bulan lalu kami berhasil mengamankan 20 kilogram sabu-sabu, dan tidak sampai 30 hari, sudah diamankan lagi sebanyak 11 kilogram sabu-sabu," katanya.

Menurut dia, sabu-sabu 11 kilogram tersebut dibawa pelaku dari Malaysia yang disimpan didinding mobil hingga masuk ke PLBN Entikong. Kemudian oleh para pelaku sesampainya di Entikong, Kabupaten Sanggau sabu-sabu yang dikemas dalam 11 paket itu di pindahkan ke tas dan dibawa ke Kota Pontianak dengan menggunakan sepeda motor.

"Kami dalam menangani kasus narkoba akan melakukan tindakan yang keras dan tegas. Dan kami sudah dilengkapi dengan senjata api maka semaksimal mungkin senjata ini kami gunakan untuk melumpuhkan, menghentikan dan bila perlu melenyapkan para penjahat narkoba dari wilayah NKRI," ujarnya. (fet/ant)

Rabu, 22 Maret 2017

Menjadi Penggiat Anti Narkoba Ada Nilai Ibadahnya Dan Tugas Mulia




Gema Nusantara Anti Narkoba (Gentara) melalukan audiensi ke BNN Provinsi Sumatra Utara dikomandoi Le Putra sebagai Wakil Ketua Umum dan di dampingi oleh Ketua DPW Gentara Sumut Johannes dan Sekretaris, yang diterima langsung oleh Brigjen Pol. Drs. Andi Loedianto dan didampingi oleh Kombes Pol. Bambang Setiawan diruang kepala BNNP.  Rabu (22/3/2017).

Le Putra menyampaikan salam dari Ketua Umum Gentara dan memperkenalkan kepengurusan baru Gentara di Sumatra Utara kepada BNNP Sumut, disamping menjaskan aksi aksi P4GN yang sudah di lakukan Gentara kepengurusan sebelumnya.

Dalam arahannya Brigjen Pol. Andi Loedianto menyampaikan bahwa menjadi penggiat anti narkoba itu ada nilai ibadahnya dan tugas mulia dan itu amanah Undang Undang.

"Jadikan hidup ini menjadi berguna kepada masyarakat dan dibutuhkan masyarakat", tegas Kaban BNNP Sumut.

Dalam dialog singkat itu kepala BNNP Sumut juga menanyakan alasan pengurus menjadi pengurus DPW Gentara Sumut dan visi dan misi.

Dalam pertemuan sebelumnya dengan Kabid Pencegahan dan Pemberdayaan Masyarakat BNNP Sumut AKBP H. Suyoso, SH Ketua dan Sekretaris DPW GENTARA
Sumut dan Wakil Ketua Umum Gentara juga mengharapkan arahan dan bimbinan serta pentingnya peran serta masyarakat dalam hal P4GN guna menuju Indonesia Bersinar

"Gentara kan bukan ormas baru di BNNP Sumut, tentu kami siap bersinergi dan mari kita terus berkoordinasi," jelas Kabid P2M BNNP Sumut..

Lep

Minggu, 19 Maret 2017

Sindikat Kurir Sabu Dalam Lapas Ditankap



Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP), Jawa Timur menggerebek sindikat pengedar sabu-sabu jaringan lapas di Jalan Panjunan Gang Artis, Sidoarjo.

Dalam penggerebekan ini, petugas mengamankan empat pengedar sabu sabu, yang terdiri dari pasangan suami istri dan dua saudaranya wanita dan laki laki.

BNNP juga menyita sabu - sabu seberat 6 ons yang baru diambil dari Lapas Pamekasan.

Dari pengembangan penggerebekan ini, petugas berhasil menangkap tiga kurir lainnya, yang masih dalam satu sindikat di Mojokerto.

"Sindikat ini merupakan kaki tangan bandar lapas di Pamekasan, Jawa Timur. Mereka ditangkap saat hendak mengirimkan barang sabu - sabu ke sejumlah pelanggan," ujar Brigjen Fatkhur Rahman, Kepala BNNP Jatim.

Modus sindikat ini cukup lihai. Dua perempuan menyamar sebagai pengunjung lapas dan bertemu bandar narkoba yang menghuni lapas.
Selain menangkap tujuh kurir narkoba, petugas juga menyita belasan handphone berbagai merek, tiket pesawat, serta ratusan bungkus kosong kecil untuk poket narkoba.
"Petugas masih mengejar pelaku lainnya, dari jaringan lapas ini," pungkasnya.

(end/jpnn)

Pengedar Narkoba Kena Timah Panas Polisi


Polda Metro Jaya berhasil menangkap lima orang tersangka pengedar narkoba yang merupakan pengembangan kasus peredaran narkoba asal China pada Juli 2016 lalu. Aparat pun mengeluarkan timah panas ke salah satu pelaku dengan alasan melakukan perlawanan saat penangkapan.

Penjelasan Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Raden Prabowo Argo Yuwono mengatakan bahwa pelaku FH (25) ketika dibekuk melakukan perlawanan dengan menggunakan pistol air softgun di Pademangan, Jakarta Utara. Dengan alasan itu, pelaku harus dihadiahi timah panas dan harus meninggal dunia.

"Kemudian dikembangkan intensif oleh Polres Jakarta Barat. Akhirnya kita dapatkan terakhir tersangka FH di Pademangan. Tapi saat kita lakukan penangkapan di jalan dia melakukan perlawanan dan mempunyai senjata api. Akhirnya Satresnarkoba Polres Jakarta Barat melakukan tindakan terukur," ujar Argo saat rilis di Rumah Sakit Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur, Sabtu (18/3/2017).

Raden Prabowo Argo Yuwono menerangkan dalam penelusuran polisi mendapati bahwa peredaran narkoba di Indonesia telah berubah rute. Biasanya dari Cina langsung ke Jakarta, tapi diubah modusnya melewati Pontianak terlebih dahulu sebelum disebar ke sejumlah kota termasuk Jakarta.

"Kemarin ada barang mau masuk lewat Pontianak ke Semarang dan pakai kereta ke Jakarta. Sampai di Gambir kita tangkap pelaku inisial AS pada Kamis 16 Maret 2017," tutur Argo.

Kemudian, Argo menjelaskan kronologi penangkapan tersebut, dari tertangkapnya pelaku AS (32), akhirnya penyidik bergerak menuju Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur. Ketika di lokasi akhirnya berhasil menangkap tiga orang tersangka, yakni, IS (30), SP (35), dan FA (28).

"Dua tersangka IS dan SP ini kita tangkap di Museum Air Tawar TMII. Dikembangkan lagi akhirnya mendapat satu tersangka di Taman Burung TMII, yang tersangka FA," jelas Argo.

"Rencananya ini diedarkan di Jabodetabek," tutup Argo.

Dengan tertangkapnya ketiga pelaku itu, akhirnya polisi bergerak memburu FH yang pada akhirnya tewas lantaran melawan petugas di Pademangan, Jakarta Utara. Kini jasad yang bersangkutan masih berada di RS Polri Kramatjati untuk prosedur lebih lanjut.

Adapun barang bukti yang diamankan petugas, ada sebanyak 3 kilogram narkotika jenis sabu, 245 butir pil ektasi, 1 pucuk senjata air softgun, dan 6 buah handphone.



(kha)

Sabtu, 18 Maret 2017

Lahgun Narkoba Bentuk Proxy War

Peredaran nakoba di Indonesia sudah merajalela dengan berbagai bentuk.
Penyalahgunaan narkoba di Indonesia memiliki keterkaitan strategi 'proxy war' (perang proxy). Kondisi ini untuk merusak generasi muda Indonesia, sehingga bangsa ini di masa depan tidak memiliki generasi berkualitas tinggi.

Indonesia dengan jumlah penduduk yang besar dan tingkat prevalensi yang tinggi memang merupakan pasar yang sangat menarik dan menguntungkan bagi bandar narkoba yang umumnya merupakan sindikat internasional. Terbukti peredarannya banyak melibatkan WNA yang terbukti menjadi tersangka.

Kegiatan penyuluhan narkoba di Gedung Dakwah Muhammadiyah Medan, hadir sebagai Nara lsumber dari BNNP Prov. Sumut Kombes Pol. Drs. Bambang Setiawan dan Narasumber dari Kejati Sumut Srilastuti, SH, Mh. Kum. yang didampingi pengurus DPW Gentara Sumut. Sabtu (18/3/2017).

Dalam paparannya Pada aksi kegiatan penyuluhan  Kombes Pol. Bambang Setiawan menyebutkan 'Proxy War' terjadi di Indonesia melaui beberapa cara, di antaranya narkoba
“Narkoba menjadi salah satu proxy war yang paling membahayakan dan menjadi bisnis terbesar di Indonesia,” kata Bambang Setiawan.

"Jika di akhir abad ke-20 Indonesia masih berstatus sebagai negara transit, maka kini Indonesia sudah beralih menjadi negara konsumen," papar Bambang Setiawan

"Angka kematian tiap tahun akibat narkoba berada pada kisaran 15.000 jiwa," ujar dia.

"Melalui konspirasi internasional, generasi muda Indonesia tanpa sadar dapat dihancurkan tanpa harus menggunakan kekuatan bersenjata. Aparat pemerintah pun sampai saat ini masih kewalahan untuk mencegah dan menguranginya," demikian kata Bambang

Sementara dari Kejati Sumut, tampil sebagai narasumber Srilastuti, SH, MhKum yang mengupas masalah dakwaan dan tuntutan terhadap yang memiliki, menyimpan dan menguasai narkoba.


"Ancaman hukuman yang berat dari pengedar, pemilik, penyimpan, pemakai narkoba bahkan  kepada org yg tidak berkaitan dgn narkoba namun berteman dengan pemakai atau pengedar narkoba", ucap Tuti

"Karena anak dibawa umur ancamannya 1/3 dari orang dewasa. Para bandar narkoba sering memanfaatkan mereka sebagai kurir/pengedar narkoba, sementara para bandar dengan sengaja menjebak anak dibawah umur sebagai pengguna narkoba dengan target regenerasi ketergantungan narkoba", jelas Tuti

Hasil pantauan Gema Nusantara Anti Narkoba, bisnis yang paling besar di negeri ini adalah bisnis narkoba, tapi itu adalah bisnis yang ilegal. Pebisnis ilegal pasti merapat ke aparat keamanan, mencari perlindungan di situ. Bisa polisi, bisa TNI, kejaksaan, dan hakim




Lep

Drugs "Krokodil" Yang Mengerikan



Krokodil Drugs adalah Narkotika ‘underground’ yang memiliki efek samping yang amat sangat buruk. Karena narkotika ini menyebabkan daging sang pengguna membusuk. Penggunaan jenis Narkotika ini sebagian besar di Rusia, meskipun pemerintah percaya bahwa Narkotika berbahaya ini telah melanda ke Eropa Barat setelah adanya laporan pelanggan dengan cacat kulit parah muncul di kafe obat Jerman. Krokodil drug berasal dari bahasa Inggris yaitu crocodile yang ber-arti buaya. Orang Indonesia menyebutnya krokodil. Apapun nama atau sebutan, yang jelas barang tersebut sangat berbahaya. Mengapa disebut Krokodil? Di juluki Krokodil (reptil) dengan mengubah kulit sang pengguna jadi bersisik, yang mengerogotinya dari dalam, otak dan anggota badan membusuk dengan luka terbuka sampai ke tulang sebelum membunuh korban dengan kematian yang menyakitkan". Bray, Sungguh Sangat Mengerikan. Krokodil itu terbuat dari apa ? Krokodil dibuat dari campuran berbagai bahan seperti kodein, bensin, thinner, asam klorida, dan fosfor merah. asam klorida lah yang menyebabkan kerusakan pada kulit. Salah satu alasan orang membuatnya karena obat dapat dibuat di rumah, dengan biaya yang murah tanpa memerlukan laboratorium mewah. Mengapa obat tersebut begitu adiktif..? Krokodil merupakan alternatif yang sangat murah untuk menggantikan harga heroin yang mahal, karena obat ini hanya menghabiskan biaya 6 sampai 8 dolar (Rp 50ribu-70ribu) per injeksi, dibandingkan dengan biaya heroin sebesar 150 dolar (Rp 1,3juta) sekali suntik. Dan zat aktif obat ini yaitu desomorphine, adalah 8 sampai 10 kali lebih kuat daripada morfin (yang digunakan dalam heroin). Pengguna yang mencoba berhenti biasanya karena sakit yang luar biasa, dan mempunyai kemauan yang sangat besar untuk sukses berhenti dari obat ini. Pecandu Krokodil biasanya hanya hidup selama tiga tahun setelah mulai menggunakannya, dimana banyak dari mereka meninggal dalam tahun pertama. Sejarah ditemukannya Krokodil Drug Krokodil drug pertama kali ditemukan di Rusia. Hal ini sangat wajar karena Rusia merupakan negara pengguna Narkoba terbanyak di dunia. Namun, pemerintah Russia berhasil menekan pertumbuhan dan pengedaran Narkoba. Krokodil drug ini sebenarnya timbul akibat dari sulitnya ditemui Narkoba jenis heroin dan kalau pun ada, harganya sangat mahal. Nah, untuk itu timbullah ide kreatif dari para junkers (pecandu narkoba) untuk meracik obat berbahaya tersebut. Krokodil drug ini sendiri merupakan sebutan orang Rusia untuk Narkoba jenis desomorfin buatan sendiri. Krokodil merupakan zat adiktif pengganti heroin yang sangat terkenal di Rusia. Efeknya yang 8-10 kali lebih kuat dari morfin (zat sama yang digunakan dalam heroin). Harganya pun tergolong sangat murah. Hanya dengan bermodal 2 poundsterling atau sekitar Rp 30.000, maka sudah dapat menikmati satu bungkus krokodil drug. Hal ini dikarenakan bahan-bahannya mudah didapat. Senyawa yang Terkandung dalam Krokodil Drug Krokodil adalah narkoba yang terbuat dari campuran senyawa, yang digunakan dalam proses pembuatan desomorfin. Narkoba itu tidak disaring, sering mengandung konsentrasi tinggi yodium, yang dapat mengganggu sistem endokrin. Adapun bahan dasar dari krokodil drug ini sangat sederhana sekali yaitu Iodine, Codein, Asam Klorida, Fosfor Merah dan Bensin. Efek Penggunaan Krokodil Drug Krokodil sama seperti narkoba jenis lainnya yang dapat menimbulkan efek berkurangnya kesadaran serta dapat membuat halusinasi yang tinggi. Narkoba jenis krokodil juga dapat menyebabkan gangguan otot, fosfor, jaringan tulang, dan admixtures berbahaya logam berat seperti seperti besi, seng, timah dan antimony. Hasilnya, sistem saraf, ketidakseimbangan mineral, dan radang hati dan ginjal terganggu. Menurut The Independent, efek samping pertama kulit akan berubah menjadi kehijauan dan bersisik seperti buaya. Ini terjadi karena pecahnya pembuluh darah dan kematian jaringan disekitarnya. Efek yang paling mengerikan dari penggunaan krokodil drug ialah daging beserta kulit pengguna akan jatuh seperti meleleh dari tubuh. Tak hanya itu, pengguna juga dapat mengalami pneumonia, keracunan darah, kerusakan arteri bahkan meningitis. Cara Mengatasi Efek Krokodil Drug Efek krokodil drug memang sangat mematikan. Satu-satunya cara untuk mengatasinya adalah dengan cara amputasi. Tidak ada cara lain selain mengamputasinya. Jika tidak diamputasi maka kulit pengguna akan semakin meleleh dan akan menyebar secara cepat. Bray kesimpulannya adalah "Krokodil Drug" mempercepat kematian dengan ganas dan menjijikkan.

BNN Ciduk Saat Produksi Sabu Hampir Sempurna



Badan Narkotika Nasional (BNN) Pusat menggerebek sebuah rumah kayu di Gampong Paloh Lada (Palda) pada Senin 13 Agustus 2017, Kecamatan Dewantara, Aceh Utara. Rumah tersebut menjadi target operasi BNN karena dijadikan sebagai pusat produksi sabu.Saat terjadi penggerebekan 13 Agustus, tim BNN menangkap Muldani alias Dani (35) warga Banda Aceh dan Edy Subhan alias Sidi (35) warga Palda.

Selanjutnya dua hari kemudian, tepatnya 15 Agustus 2017, BNN menjemput Muzakir alias Zakir alias Jack alias Hairul Anwar (34), napi kasus narkoba yang sedang menjalani hukuman di LP Lhoksukon. Kini ketiga pria tersebut sedang proses persidangan di PN Lhoksukon. Sidang lanjutan berlangsung Rabu (8/3) dengan agenda pembacaan materi tuntutan oleh JPU.

Mengacu pada materi tuntutan yang dibacakan pada persidangan kemarin terungkap peran para terdakwa dalam perkara itu. Ketiga terdakwa tak ubahnya seperti guru dan murid yang melakukan proses belajar mengajar. Namun materi pembelajaran terkait cara meracik/mengolah sabu.

Dalam proses belajar mengajar tersebut Muzakir berperan sebagai guru sedangkan Edi dan Muldani sebagai murid. Sistem belajar mengajar yang mereka lakukan memanfaatkan kemajuan teknologi digital melalui aplikasi video call. Guru dan murid hampir tak pernah bertemu secara fisik. Sang guru di penjara, murid di luar, namun transpormasi ilmu berjalan lancar.

Bak kata pepatah, sepandai-pandai tupai melompat, akhirnya jatuh juga. Pepatah itu ternyata berlaku untuk Edi, Muldani, dan Muzakir. Ketika pelajaran meracik untuk memproduksi sabu hampir sempurna, tim BNN menciduk mereka. Guru dan murid tersebut harus berhadapan dengan hukum. Bahkan proses hukumnya telah memasuki tahapan tuntutan jaksa. Ketiganya ditohok oleh JPU dengan hukuman 56 tahun penjara.



sumber

Ganja dan 7,5 Kg Dan Sabu Dimusnahkan Di Mapolda Jabar



Polda Jawa Barat memusnahkan sebanyak 207 kilogram narkoba jenis ganja dan 7,5 kilogram sabu di halaman Mapolda Jawa Barat, Barang bukti narkoba dengan nilai total sekitar Rp 27 miliar ini merupakan hasil pengungkapan peredaran dan penyalahgunaan narkoba di wilayah hukum Jawa Barat beberapa waktu terakhir. Jumat (17/3/ 2017).

"Barang bukti ini hasil pengungkapan selama kurun waktu sekitar enam bulan ke belakang," ujar Direktur Reserse Narkoba Polda Jawa Barat Asep Jenal Ahmadi.

Hadir pada acara pemusnahan tersebut, selain Kapolda Jawa Barat Anton Charliyan, pemusnahan ini dihadiri oleh perwakilan sejumlah instansi terkait seperti Kejaksaan Tinggi Jawa Barat, Pengadilan Tinggi, Kodam III/Siliwangi, Pemprov Jawa Barat, Majelis Ulama Indonesia, Badan Narkotika Nasional Jawa Barat dan Kota Bandung. Narkotika jenis sabu dimusnahkan dengan cara dilarutkan dengan cairan kimia, sedangkan ganja dimusnahkan dengan cara dibakar. Asep menuturkan, barang bukti itu berasal dari 1.739 kasus dengan jumlah tersangka 2.103 orang.


Lep

Kombes Pol. Drs. Bambang Setiawan, Gentara Harus Jadi Icon Anti Narkoba



Kombes Pol. Drs. Bambang Setiawan dari BNN Provinsi Sumatera Utara datang berkunjung ke kantor DPW Gema Nusantara Anti Narkoba (Gentara) Prov. Sumut yang diterima ketua Johannes, SE dan sekretaris Ohiruddin Lubis yang juga didampingi wakil ketua umum Gema Nusantara Anti Narkoba (Gentara) di Jalan Palembang, No. 2c/8 Medan. Kamis (15/3/2017).

Dalam arahannya Kombes Pol. Drs. Bambang Setiawan dari BNN Provinsi Sumatera Utara kepada jajaran pengurus di sampaikan bahwa Ormas Gentara harus menjadi icon bagi ormas lain dalam aksi P4GN di Sumatera Utara.

"Saya sebagai penyuluh Utama di BNNP Sumut siap mendukung program Gentara dalam menciptakan kader kader penyuluh", ucap Bambang Setiawan

Johannes, SE menyampaikan visi dan misi Gentara kepada Kombes Pol. Drs. Bambang Setiawan serta program kerja tahun 2017, serta mengharapkan binaan dan bimbingan.

"Kami butuh bimbingan dan binaan yang terus menerus dari BNN, sehingga kehadiran ormas kami menjadi manfaat bagi masyarakat Sumut", Pinta Johannes.

"Program kerja kami dalam waktu dekat adalah mencetak 5.000 spandu dan stiker Stop Narkoba untuk disebar di Kota Medan", jelas Ketua Gentara Sumut kepada Bambang Setiawan.

"Dalam kegiatan nanti, kami juga butuh penyuluh dari Dir. Binmas Polda dan BNNP Sumut dalan kegiatan aksi P4GN dan akan bersinergi dengan institusi lain" tegas Johannes

Ketua DPW Gema Nusantara Anti Narkoba (Gentara) Prov. Sumut  Johannes, SE menyerahkan struktur kepengurusan yang baru kepada Kombes Pol. Drs. Bambang Setiawan. Diskusi ringan itu diakhiri dengan foto bersama di ruang kantor DPW Gentara Sumut






Lep

Kamis, 16 Maret 2017

Wilayah Pantai Dimanfaatkan Sebagai Jalur Pasokan Narkoba

HOKSEUMAWE – Kepala Badan Narkotika Nasional Kota (BNNK) Lhokseumawe, AKBP Fakhrurrozi mengatakan, sindikat narkoba sangat memanfaatkan kawasan pantai sebagai jalur transaksi dari luar negeri untuk dikirimkan ke Aceh.
“Jalur laut dimanfaatkan oleh sindikat tertentu untuk memasukkan narkoba dari luar negeri ke Aceh. Karena jalur tersebut sangat susah untuk dijangkau oleh aparat kemanan,” kata Fakhrurrozi kepada GoAceh, Kamis (16/3/2017). Baca: BNN Sesalkan Pengurangan Hukuman Tersangka Narkoba Lanjutnya, pencegahan narkoba ini tidak hanya menjadi tanggung jawab BNN dan aparat Kepolisian semata, tetapi juga tanggungjawab masyarakat umumnya, untuk mencegah maraknya pemakaian barang haram tersebut.
Ads
“Kami akan selalu bersinergi, baik itu dari intansi pemerintahan maupun ke tingkat gampong untuk melakukan penjagaan bersama. Kita perkuat pencegahan dengan harapan yang belum kena narkoba jangan sampai terpengaruh,” sebutnya. Baca: Dirreskrimsus Polda Aceh Kini Dijabat Mantan Kepala BNNP Aceh Fakhrurrozi menambahkan, pihaknya akan melengkapi sarana dan prasarana yang belum lengkap di BNN dan juga akan  berkoordinasi dengan wali kota untuk melakukan pemberantasan narkoba tersebut. “Kami berharap masyarakat sadar tentang bahaya narkoba, sebab meningkatnya barang tersebut karena kurangnya pemahaman masyarakat. Kota kita ini sudah darurat narkoba,” pungkasnya. Baca: 3 Tersangka 46 Kilogram Sabu yang Diringkus BNN di Medan Ternyata Warga Seunuddon - See more at: https://www.goaceh.co/berita/baca/2017/03/16/bnn-lhokseumawe-wilayah-pantai-dimanfaatkan-sebagai-jalur-pasokan-narkoba#sthash.veatfhWN.dpuf
Kepala Badan Narkotika Nasional Kota (BNNK) Lhokseumawe, AKBP Fakhrurrozi mengatakan, sindikat narkoba sangat memanfaatkan kawasan pantai sebagai jalur transaksi dari luar negeri untuk dikirimkan ke Aceh.

“Jalur laut dimanfaatkan oleh sindikat tertentu untuk memasukkan narkoba dari luar negeri ke Aceh. Karena jalur tersebut sangat susah untuk dijangkau oleh aparat kemanan,” kata Fakhrurrozi kepada GoAceh, Kamis (16/3/2017).

Lanjutnya, pencegahan narkoba ini tidak hanya menjadi tanggung jawab BNN dan aparat Kepolisian semata, tetapi juga tanggungjawab masyarakat umumnya, untuk mencegah maraknya pemakaian barang haram tersebut.

“Kami akan selalu bersinergi, baik itu dari intansi pemerintahan maupun ke tingkat gampong untuk melakukan penjagaan bersama. Kita perkuat pencegahan dengan harapan yang belum kena narkoba jangan sampai terpengaruh,” sebutnya.

Fakhrurrozi menambahkan, pihaknya akan melengkapi sarana dan prasarana yang belum lengkap di BNN dan juga akan berkoordinasi dengan wali kota untuk melakukan pemberantasan narkoba tersebut.

“Kami berharap masyarakat sadar tentang bahaya narkoba, sebab meningkatnya barang tersebut karena kurangnya pemahaman masyarakat. Kota kita ini sudah darurat narkoba,” pungkasnya


Kepala Badan Narkotika Nasional Kota (BNNK) Lhokseumawe, AKBP Fakhrurrozi mengatakan, sindikat narkoba sangat memanfaatkan kawasan pantai sebagai jalur transaksi dari luar negeri untuk dikirimkan ke Aceh.
“Jalur laut dimanfaatkan oleh sindikat tertentu untuk memasukkan narkoba dari luar negeri ke Aceh. Karena jalur tersebut sangat susah untuk dijangkau - See more at: https://www.goaceh.co/berita/baca/2017/03/16/bnn-lhokseumawe-wilayah-pantai-dimanfaatkan-sebagai-jalur-pasokan-narkoba#sthash.b5CqJlwB.dpuf
HOKSEUMAWE – Kepala Badan Narkotika Nasional Kota (BNNK) Lhokseumawe, AKBP Fakhrurrozi mengatakan, sindikat narkoba sangat memanfaatkan kawasan pantai sebagai jalur transaksi dari luar negeri untuk dikirimkan ke Aceh.
“Jalur laut dimanfaatkan oleh sindikat tertentu untuk memasukkan narkoba dari luar negeri ke Aceh. Karena jalur tersebut sangat susah untuk dijangkau oleh aparat kemanan,” kata Fakhrurrozi kepada GoAceh, Kamis (16/3/2017). Baca: BNN Sesalkan Pengurangan Hukuman Tersangka Narkoba Lanjutnya, pencegahan narkoba ini tidak hanya menjadi tanggung jawab BNN dan aparat Kepolisian semata, tetapi juga tanggungjawab masyarakat umumnya, untuk mencegah maraknya pemakaian barang haram tersebut.
Ads
“Kami akan selalu bersinergi, baik itu dari intansi pemerintahan maupun ke tingkat gampong untuk melakukan penjagaan bersama. Kita perkuat pencegahan dengan harapan yang belum kena narkoba jangan sampai terpengaruh,” sebutnya. Baca: Dirreskrimsus Polda Aceh Kini Dijabat Mantan Kepala BNNP Aceh Fakhrurrozi menambahkan, pihaknya akan melengkapi sarana dan prasarana yang belum lengkap di BNN dan juga akan  berkoordinasi dengan wali kota untuk melakukan pemberantasan narkoba tersebut. “Kami berharap masyarakat sadar tentang bahaya narkoba, sebab meningkatnya barang tersebut karena kurangnya pemahaman masyarakat. Kota kita ini sudah darurat narkoba,” pungkasnya. Baca: 3 Tersangka 46 Kilogram Sabu yang Diringkus BNN di Medan Ternyata Warga Seunuddon - See more at: https://www.goaceh.co/berita/baca/2017/03/16/bnn-lhokseumawe-wilayah-pantai-dimanfaatkan-sebagai-jalur-pasokan-narkoba#sthash.veatfhWN.dpuf

Kepala Badan Narkotika Nasional Kota (BNNK) Lhokseumawe, AKBP Fakhrurrozi mengatakan, sindikat narkoba sangat memanfaatkan kawasan pantai sebagai jalur transaksi dari luar negeri untuk dikirimkan ke Aceh.
“Jalur laut dimanfaatkan oleh sindikat tertentu untuk memasukkan narkoba dari luar negeri ke Aceh. Karena jalur tersebut sangat susah untuk dijangkau oleh aparat kemanan,” kata Fakhrurrozi kepada GoAceh, Kamis (16/3/2017). - See more at: https://www.goaceh.co/berita/baca/2017/03/16/bnn-lhokseumawe-wilayah-pantai-dimanfaatkan-sebagai-jalur-pasokan-narkoba#sthash.veatfhWN.dpuf
Kepala Badan Narkotika Nasional Kota (BNNK) Lhokseumawe, AKBP Fakhrurrozi mengatakan, sindikat narkoba sangat memanfaatkan kawasan pantai sebagai jalur transaksi dari luar negeri untuk dikirimkan ke Aceh.
“Jalur laut dimanfaatkan oleh sindikat tertentu untuk memasukkan narkoba dari luar negeri ke Aceh. Karena jalur tersebut sangat susah untuk dijangka - See more at: https://www.goaceh.co/berita/baca/2017/03/16/bnn-lhokseumawe-wilayah-pantai-dimanfaatkan-sebagai-jalur-pasokan-narkoba#sthash.2t0geEuo.dpuf
Kepala Badan Narkotika Nasional Kota (BNNK) Lhokseumawe, AKBP Fakhrurrozi mengatakan, sindikat narkoba sangat memanfaatkan kawasan pantai sebagai jalur transaksi dari luar negeri untuk dikirimkan ke Aceh.
“Jalur laut dimanfaatkan oleh sindikat tertentu untuk memasukkan narkoba dari luar negeri ke Aceh. Karena jalur tersebut sangat susah untuk dijangka - See more at: https://www.goaceh.co/berita/baca/2017/03/16/bnn-lhokseumawe-wilayah-pantai-dimanfaatkan-sebagai-jalur-pasokan-narkoba#sthash.2t0geEuo.dpuf
Kepala Badan Narkotika Nasional Kota (BNNK) Lhokseumawe, AKBP Fakhrurrozi mengatakan, sindikat narkoba sangat memanfaatkan kawasan pantai sebagai jalur transaksi dari luar negeri untuk dikirimkan ke Aceh.
“Jalur laut dimanfaatkan oleh sindikat tertentu untuk memasukkan narkoba dari luar negeri ke Aceh. Karena jalur tersebut sangat susah untuk dijangka - See more at: https://www.goaceh.co/berita/baca/2017/03/16/bnn-lhokseumawe-wilayah-pantai-dimanfaatkan-sebagai-jalur-pasokan-narkoba#sthash.2t0geEuo.dpuf
Kepala Badan Narkotika Nasional Kota (BNNK) Lhokseumawe, AKBP Fakhrurrozi mengatakan, sindikat narkoba sangat memanfaatkan kawasan pantai sebagai jalur transaksi dari luar negeri untuk dikirimkan ke Aceh.
“Jalur laut dimanfaatkan oleh sindikat tertentu untuk memasukkan narkoba dari luar negeri ke Aceh. Karena jalur tersebut sangat susah untuk dijangka - See more at: https://www.goaceh.co/berita/baca/2017/03/16/bnn-lhokseumawe-wilayah-pantai-dimanfaatkan-sebagai-jalur-pasokan-narkoba#sthash.2t0geEuo.dpuf