Kamis, 31 Agustus 2017
58 Bandar Narkoba di Filipina Tewas, Dalam Seminggu ink
Operasi polisi di Manila, Filipina, digencarkan sejalan dengan upaya Presiden Rodrigo Duterte memberantas narkoba. Dalam semalam saja, setidaknya ada 26 bandar narkoba yang tewas.
Dilansir kantor berita Reuters, Kamis (17/8/2017), operasi yang memakan 26 korban jiwa itu dilakukan pada58 Bandar Narkoba di Filipina Tewas
tadi malam. Operasi yang menelan korban jiwa itu menyusul 32 bandar narkoba yang tewas pada Senin (14/8) malam di Provinsi Bulacan yang berbatasan dengan ibu kota.
Juru bicara kepolisian Manila, Kolonel Erwin Margarejo, menyebut penyerbuan semalam sebagai operasi 'one time, big time'. Operasi yang sama juga dilakukan di Bulacan.
"Operasi 'one time, big time' ini tidak hanya fokus pada narkoba, kami juga melawan kejahatan kriminal seperti perampokan, tapi orang-orang itu bisa juga dalam pengaruh narkoba," ucap Margarejo.
"Jika mereka melawan dengan kekerasan, petugas kami juga harus mempertahankan diri," imbuhnya.
Sejak terpilih menjadi presiden pada 30 Juni tahun lalu, Duterte secara tegas melawan kejahatan narkoba. Namun caranya itu ditentang lantaran dengan cara kekerasan pula.
Tentang operasi besar-besaran minggu ini, Duterte seolah telah memberikan restu. Dia menyebut tewasnya 32 bandar narkoba di Bulacan sebagai hal yang bagus.
"Mari tewaskan 32 orang lainnya setiap hari. Mungkin dengan begitu kita bisa mengurangi apa yang membuat negara ini sakit," ucap Duterte.
Rabu, 30 Agustus 2017
Sejarah Baru, Buwas Rekrut Perwira TNI jadi Pejabat BNN
Kepala BNN Komisaris Jenderal Polisi Drs. Budi Waseso, mengaku punya alasan kuat untuk mengangkat perwira TNI sebagai Kepala BNN tingkat kabupaten/kota.
Jenderal polisi yang akrab disapa Buwas itu mengatakan pelibatan TNI dalam pemberantasan narkoba sangat penting, karena punya tugas fungsi operasi selain perang.
"TNI selain perang itu punya tugas-tugas ya terhadap negara dan bangsa, jadi saat ini TNI saya rangkul dan saya wujudkan. Saya tidak ada keraguan apapun, yang saya ambil keputusan ini saya yang ambil konsekuensi," kata Komjen Buwas di kantor BNN, Selasa, 29 Agustus 2017.
Menurutnya, perang terhadap narkoba bukan hanya tanggungjawab BNN dan Polri. TNI lanjut dia, juga punya tugas yang sama untuk memerangi narkoba. Oleh karena itu, pelibatan TNI dalam menangani masalah narkoba tak perlu dipersoalkan lagi.
"Ya karena untuk bangsa dan negara jadi kita enggak usah ragu-ragu (melibatkan TNI). Nanti kalau ada protes dari HAM kita jawab, kan ada tanya, ada jawab," ujar mantan Kabareskrim Polri itu.
Penempatan TNI sebagai Kepala BNN di kabupaten/kota, diharapkan Buwas, bisa menekan pusat peredaran narkoba yang ada di kota/kabupaten di Indonesia. "Kita bersihkan dulu pusat peredarannya. Nanti setelah itu baru suplainya kita tangani bertahap. Paling tidak, next, ke depannya kita libatkan TNI paling tidak AL," tegasnya.
Sejarah Baru
Buwas baru saja melantik 14 pejabat eselon II, III dan IV BNN. Dari 14 itu, dua diantaranya adalah anggota TNI aktif yang akan ditempatkan sebagai Kepala BNN tingkat kota/kabupaten.
Keduanya yakni Letkol CPM Ivan Eka Satya yang diangkat sebagai Kepala BNN Kota Cimahi, dan Letkol Laut CPM Agus Musrichin yang diangkat sebagai Kepala BNN Kabupaten Malang.
"Ini sejarah baru, Ini bukti BNN sinergitas dengan semua kementerian dan lembaga. Kali ini sejarah kita lantik dan libatkan pimpinan di kewilayahan yang libatkan unsur TNI," kata kepala BNN Komjen Pol Budi Waseso di gedung BNN lantai 7, Selasa 29 Agustus 2017. (ren)
Tes Urin di Jajaran Pengadilan Negeri Ternate
Upaya preventif Penyalahgunaan Narkoba terus dilaksanakan diantaranya dengan tes uji narkotika melalui tes urin dilaksanakan di kantor Pengadilan Tinggi Maluku Utara, yang diikuti seluruh personil Pengadilan Tinggi, Pengadilan Negeri Ternate dan Pengadilan Negeri Soasio bertempat di kantor Pengadilan Tinggi pada (29/08).
Ketua Pengadilan Tinggi Maluku Utara Kornel Sianturi, SH., M.Hum bersama Kepala BNNP Maluku Utara, Brigjen Pol. Drs. Richard M. Nainggolan, MM. MBA turun langsung melihat jalannya tes urin yang melibatkan hakim dari ketiga pengadilan bersama pejabat dan staf.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pemberdayaan Masyarakat BNNP Maluku Utara, Drs. Hairuddin Umaternate, M.Si yang pada kesempatan tersebut juga mengingatkan ke jajaran Pengadilan, bahaya penyalahgunaan narkoba sudah masuk pada berbagai lini, dan lingkungan kerja sangat rawan.
"Menciptakan aparatur yang bersih narkoba berdampak pada lingkungan kerja yang nyaman serta lebih berkualitas", kata Hairuddin ke sejumlah 157 personil yang melakukan tes urin. Dari tes urin tersebut diketahui 21 personil lainnya belum melakukan tes dimaksud karena sedang melaksanakan tugas kedinasan.
Hasil tes urin ini menurut kepala Bidang P2M akan dilaporkan ke kepala BNNP Maluku Utara dan selanjutnya akan disampaikan ke Ketua Pengadilan Tinggi.
Lep
Selasa, 29 Agustus 2017
BNN Bongkar Bisnis Narkotika Napi LP Sragen
Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Jawa Tengah membongkar bisnis narkotika yang dikendalikan oleh seorang narapidana penghuni Lembaga Pemasyarakatan (LP) Sragen.
Kepala BNN Jateng Brigjen Pol Tri Agus Heru di Kota Semarang, Selasa (29/8/2017), mengatakan Amirul Huda, warga binaan LP Sragen, diringkus setelah sebelumnya dua kaki tangannya ditangkap lebih dulu.
Menurut dia, pengungkapan pengendalian peredaran narkotika dan obat-obatan berbahaya lainnya (narkoba) itu bermula ketika petugas menangkap dua kurir narkotika jenis sabu-sabu saat mengambil barang haram itu di depan Rumah Sakit Sultan Agung, Jl. Kaligawe, Kota Semarang.
“Ada informasi tentang transaksi yang akan dilakukan di Jalan Kaligawe. Petugas kemudian melakukan pengintaian,” katanya.
Dua kurir berinisial AY dan MF tersebut sempat membuang sabu-sabu yang diambilnya itu ke sungai sebelum akhirnya berhasil ditemukan petugas dan barang haram itu dianggap sebagai barang bukti kasus narkoba Jateng. Dalam penangkapan itu, petugas mengamankan 25 gram sabu-sabu.
Dalam pengembangannya, petugas menemukan sabu-sabu lain seberat 275 gram di rumah kontrakan MF. “Total ada 300 gram yang didapatkan,” katanya.
Berdasarkan pengakuan kedua kurir itu, diketahui bisnis sabu-sabu tersebut dikendalikan oleh napi di LP Sragen. Polisi yang lalu berkoordinasi dengan Kementerian Hukum dan HAM kemudian menangkap napi yang sedang menjalani enam tahun masa hukuman itu. Dirampas juga telepon seluler yang diduga digunakan untuk mengendalikan bisnisnya.
Pesawat telepon itu dianggap barang bukti kasus peredaran narkoba di Jateng. Para tersangka selanjutnya dijerat dengan Undang-undang Nomor 35 tahun 2009 tentang penyalahgunaan narkotika.
Malaysia Punya Big Boss Narkoba yang tidak Tersentuh
Badan Narkotika Nasional (BNN) selama ini melakukan penindakan narkotika selalu dari bawah hingga menyasar ke jaringan teratas. Bahkan dari jaringan-jaringan kecil itu juga BNN akhirnya tahu ada jaringan narkoba internasional yang dikendalikan oleh big boss di Malaysia.
"Yang dikendalikan Malaysia juga ada, karena di Malaysia itu ada big boss, bos besar yang dia memperkerjakan banyak orang," ujar Humas BNN Sulistiandriatmoko di kantornya di Gedung BNN, Cawang, Jakarta Timur, Senin (28/8).
Big boss ini terangnya memang tidak sebanyak jaringan asal Malaysia yang selama ini tertangkap di Indonesia. Namun beberapa big boss inilah yang mengendalikan seluruhnya barang-barang diselundupkan ke Indonesia.
"Bos besarnya hanya beberapa saja tapi dia yang punya akses mendatangkan barang dari Cina, teanslit di Malaysia, di distribusi ke Indonesia," jelasnya.
Bahkan ujar dia yang mendistribusikan ini bisa saja kaki tangan ke dua atau ketiga. Sehingga sangat sulit untuk menjangkau big boss ini lantaran tidak melakukan tindak pidana langsung.
"Kurir mereka ketangkep tapi kan pengendalinya tidak berbuat kejahatan di Indonesia jadi sulit dijangkau," ungkapnya.
Untuk kerja sama dengan aparat keamanan Malaysia sendiri terangnya diakui sudah ada nota kesepahahaman atau MOU. Sayangnya MOU tersebut seolah hanyalah kertas-kertas yang tidak lagi terpakai.
"Sudah (ada MoU) hanya hitam di atas putih saja, mereka engga kooperatif," tegas Sulis.
Sulis mencontohkan tidak sekali BNN meminta kerja sama dengan pihak Malaysia terkait dengan pelaku narkotika tertentu. Namun selalu mendapatkan respon tidak ditemukan pelaku tersebut.
"Bahkan kita menyerahkan datanya mereka (Malaysia) bilang engga ada, kita datangi ke sana, alamat lengkap, titik koordinat sudha lengkap tinggal penggrebekan, tahu-tahu malah sudah lepas. Memamg ada unsur kesengajaan untuk melemahkan Indonesia," ungkapnya.
Penangkapan yang dilakukan BNN selama ini sambung dia, sebanyak 72 orang tersangka asal Malaysia yang sudah diamankan baik yang diproses hukum maupun ditembak mati. Sedangkan di tahun sebelumnya, pada 2015 sebanyak 42 orang asal Malaysia.
Kemudian pamesok dari Cina, BNN mengamankan sebanyak 27 orang pada 2015 dan 24 orang pada 2016. Selanjutnha jaringan dari Taiwan sebanyak 21 orang yang diamankan pada 2015 dan 16 orang di tahun 2016 terakhir di Nigeria sebanyak 32 orang pada 2015 dan delapan orang pada 2016.
Jalur masuk yang digunakan adalah melalui pesisir pantai, baik pantai Timur Sumatera, pantai Sukabumi, pelabuhan ratu, ujung genteng, dan pantai utara Kepulauan Riau. Memang lanjut Sulis, produsen utama narkotika ini adalah di Cina. Hal tersebut juga diakui oleh pihak Cina.
Sayangnya belum ada MoU antara Indonesia dengan Cina. Sehingga selama ini hanya sebatas koordinasi apabila Indonesia membutuhkan data terkait tersnajka tertentu yang berasal dari Cina.
Sedangkan untuk penindakan lanjut Sulis, nampaknya akan sangat sulit untuk dilakukan Indonesia kepada Cina. Pasalnya paradigma Cina yang menganggap narkoba sebagai barang komoditas.
"Politik kebijakan di negaranya itu sepanjang itu (narkoba) bernilai produktif dan tidak merusak bangsa sendiri, sah-sah saja. Mau memproduksi itu tidak masalah. Itukan barang komoditi sehungav dianggap sebagai dagangan kalau menguntungkan negara ya silahkan," jelasnya.
Bahkan ada satu celetukan dari pejabat Cina yang mengibaratkan dengan silet. Menurut Cina, jika mereka memproduksi silet kemudian dijual di Indonesia lalu digunakan sebagai senjata untuk membunuh apakah harus pihaknya menutup perusahaan silet itu.
"Pernah ada orang di sana menganalogikan begini, kalau negara kami bikin silet kemudian kita ekspor sebagai pisau cukur, kalau di negaramu digunakan untuk membunuh orang, apakah kami harus menutup pabrik kami? Kan tidak. Disitulah kamu harus mengawasi agar tidak disalahgunakan," cerita Kabag Humas BNN RI
sumber
sumber
Senin, 28 Agustus 2017
IRONIS, Aceh Menjadi Jalur Primadona Para Sindikat Pengedar Narkoba
Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri Brigjen Eko Daniyanto mengatakan Aceh menjadi jalur favorit bagi para sindikat pengedar narkoba di tahun 2017 ini. Banyak jalur sejarah di Aceh yang kini dimanfaatkan kembali oleh para sindikat narkoba internasional tersebut.
"Aceh ini mulai Februari sampai Maret sangat signifikan, deras sekali peningkatan penyeludupan narkotika, baik itu di Aceh Utara maupun di Aceh Timur," ungkap Eko yang ditemui di kantornya di Direktorat Narkoba Bareskrim Polri, Cawang, Jakarta Timur, Senin (28/8).
Jalur-jalur yang digunakan kata dia salah satunya adalah bekas jalur-jalur masuknya senjata api ke Aceh. Misalnya di kawasan Lembada dan Samalanga kemudian di Lhokseumaweh, di daerah perbatasan Idi Rayeuk serta di Aceh Timur Langsa dan Tamiyang.
Selanjutnya sambung Eko, barang akan masuk ke Sumatera Utara kemudian masuk Tanjung Balai Asahan yaitu di Teluk Nibung lalu masuk ke Riau dan ke Bengkalis, Dumai, Tanjung Pinang. Baru kemudian turun masuk ke daerah Kepri-Batam.
"Itu yang kita amati dan mereka gunakan kapal-kapal nelayan atau kapal barang yang mereka gunakan untuk membawa narkoba," jelasnya.
Dari penyeludupan-penyeludupan tersebut, Eko mengatakan, polisi bekerja sama dengan Beacukai, BNN, dan TNI. Pada 2017 hingga Juli berhasil diamankan 32.406 tersangka dari 25.780 kasus narkoba. Sedangkan untuk mereka yang ditembak mati yakni sebanyak 38 orang. Sebanyak 36 orang merupakan warga negara Indonesia dan enam warga negara asing. "Sekitar 38, 32 WNI, enam orang asing itu dua orang Cina, satu Taiwan dan tiga Nigeria jadi total 38," ungkapnya.
sumber
sumber
Bandar Asal Madura Pasok Narkoba ke Bali
Penyelundupan narkoba ke Bali terus dilakukan bandar asal Madura, Jawa Timur. Seperti penangkapan tersangka Sa (30) di Terminal Mengwi, Jumat (25/8). Tersangka Sa mengaku jadi kurir bandar asal Madura dan dua kali disuruh membawa barang terlarang tersebut.
Ada 350.000 orang Pengguna Narkoba di Sumut
Badan Narkotika Nasional mencatat warga yang menjadi pengguna dan terdampak narkoba di Provinsi Sumatera Utara berjumlah sekitar 350 ribu orang. Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Sumut Brigjen Pol Andi Loedianto di Medan, akhir pekan ini, mengatakan jumlah pengguna dan terdampak narkoba itu tersebar di 33 kabupaten/kota di Sumut.
Jika dirata-ratakan, BNN memperkirakan ada sekitar 10 ribu warga yang menjadi pengguna narkoba di setiap kabupaten/kota di Sumut. Kondisi yang lebih memprihatinkan, Sumut bukan lagi sekadar lokasi pemasaran narkoba, melainkan produsen dan lokasi pendistribusian ke daerah lain.
“(Narkoba) di Jakarta dikirim dari sini. Begitu juga di Palembang, Lampung dan Jawa Barat,” katanya.
Dari analisa dan pengungkapan kasus selama ini, warga yang terdampak dengan narkoba tersebut hampir merata, mulai dari usia 10 hingga 59 tahun.
“Ada anak kelas 5 SD yang ditemukan menggunakan sabu-sabu,” ujar Brigjen Andi.
Ia mengatakan, dari komunikasi dengan seluruh kapolda di Tanah Air, setiap hari ada penangkapan pengguna dan pengedar narkoba di Indonesia. Kondisi itu membuktikan bahwa narkoba selalu beredar dan dimasukkan ke Indonesia melalui berbagai jalur.
Direktur Reserse Narkoba Polda Sumut Kombes Pol Hendrik Marpaung mengatakan, seluruh elemen masyarakat harus bergandeng tangan dalam melepaskan diri dari ‘penjajahan narkoba’ yang telah merambah hingga ke tingkat desa.
Pihaknya meminta orang-orang yang terlibat dengan narkoba, terutama sebagai bandar dan pengedar untuk menghentikan aktivitasnya dalam memperdagangkan barang terlarang itu. Jika tertangkap, pihak kepolisian akan melakukan tindakan tegas, apalagi jika sampai melawan. “Kami punya motto ‘berhenti atau mati’,” katanya.
Gandeng SLANK
Guna mengampanyekan program Indonesia tanpa penyalahgunaan narkoba lewat BUMN Gebyar Kemerdekaan bekerja sama dengan BNNP Sumatera Utara, PT Pertamina (Persero) menggandeng grup band papan atas Indonesia Slank tampil di Lapangan Banteng Kota Medan.
Slank dipilih sebagai jembatan untuk mendekati para generasi muda, supaya menghindari narkoba yang sudah sangat membahayakan dan merusak secara tersistem.
“Slank itu punya sejarah sendiri tentang bahaya narkoba. Kami pilih Slank karena bisa mengedukasi generasi muda untuk menghindari narkoba,” ujar Direktur Utama Pertamina Elia Massa Manik didampingi General Manager Pertamina Marketing Operation Region (MOR) I Erry Widiastono, Minggu (27/8).
Sementara, Kepala BNNP Sumut Brigjen Pol Andi Loedianto memberi apresiasi Pertamina dan seluruh BUMN yang ikut serta dalam kegiatan ini dan mendukung kampanye anti narkoba.
Pasalnya, narkoba adalah musuh bersama, sehingga acara seperti ini diharapkan dapat terus berlanjut.
Andi menambahkan, diperlukan kerja sama dan sinergitas antar unsur di masyarakat, dari instansi pemerintah, BUMN, serta instansi terkait lainnya yang secara serentak mengampanyekan kebijakan anti narkoba, terutama di kalangan usia muda. (ant/bs/ms)
Tembak Mati Pengedar Narkoba di Sidoarjo, Polisi Temukan Uang Rp 20 Juta di Jok Motor
Anggota Reskoba Polrestabes Surabaya menembak mati Sendi Davitson (32) warga Jalan Ikan Cakalang, Waru Tambakrejo, Sidoarjo, Minggu (27/8/2017) dini hari.
Oleh polisi, pria ini dikenal sebagai bandar narkoba yang selama ini memasok sabu-sabu dan ekstasi ke Jawa Timur, bahkan luar Jawa. Dia pun terindikasikan menjadi pemasok narkoba ke sejumlah lembaga pemasyarakatan.
"Kami lalukan upaya paksa menembak bandar narkoba karena menyerang petugas dengan senjata tajam saat diamankan. Dialah pemasok narkoba ke Lapas Porong," jelas Kapolrestabes Surabaya, Kombespol Muhammad Iqbal, saat di Kamar Mayat RSU Dr Soetomo Surabaya, Minggu (27/8/2017).
Informasi yang diterima, Sendi yang sudah lama menjadi target petugas itu dihabisi di Jl Dr Soetomo Sidoarjo. Di jalan yang sudah sepi itu, menurut Kapolrestabes Iqbal, Sendi melawan dengan golok kecil.
Incaran petugas Reskoba itu hendak traksaksi bersama dua pengedar. Yakni Melisa (27) warga Sidoarjo dan Nizar Adi Irawan (22) warga Mojokerto. Sendi menemui keduanya dengan naik motor.
Petugas yang sudah lama menantikan momen transaksi ini pun bergerak cepat meringkus mereka. Namun Sendi yang dikenal lihai dan licin ini memilih melawan saat hendak diringkus.
Dari balik baju, bandar narkoba itu mengeluarkan golok kecil. Sendi menyerang petugas saat membekuknya. Petugas yang sigap langsung melakukan upaya paksa.
"Ini langkah terukur kami. SOP kami harus menghabisi pelaku narkoba yang melawan dan mengancam jiwa petugas. Narkoba adalah musuh negara. Kami harus lebih garang," tegas Iqbal.
Petugas mengamankan dua anak buah Sendi yang dinihari itu juga diringkus. Sejumlah barang bukti dari dalam bagasi jok motor Sendi juga diamankan. Petugas kaget karena ada uang tunai di dalam jok motor itu Rp 20 juta.
Diduga uang ini adalah hasil transaksi narkoba. Ada ekstasi dan sabu yang merupakan hasil transaksi tiga orang tersangka.
Dari transaksi tersebut Anggota mengamankan 15 paket plastic berisi 1.424 butir Pil ekstasi warna hijau dengan logo B29 dan warna orange berbentuk huruf B.
Sedianya narkotika jenis ekstasi yang digembol Sendi itu akan diberikan khusus kepada Melisa dan Nizar. Dua orang ini tidak lain adalah pengedar jaringan Sendi.
Petugas membuka jok motor Sendi dan mengamankan 2 paket sabu seberat 194,36 gram. Kemudian 2 paket plastik berisi 200 butir Pil Ekstasi warna ungu berbentuk hati. "Uang tunai Rp 20 juta ada di jok ini," jelas Kasat Reskoba Polrestabes Surabaya, AKBP Ronny Faisal.
Libatkan Perempuan Tembus Lapas
Polrestabes Surabaya memerlukan waktu 2,5 bulan untuk menangkap Jaringan Sendi. Bandar narkoba itu ditembak mati polisi karena menyerang dengan golok kecil.
Pisau tajam itu diamankan saat dilakukan upaya paksa menembak mati Sendi. Setelah terkapar, petugas langsung membawa bandar narkoba yang tewas itu ke Kamar Mayat RSU Dr Soetomo Surabaya. Hingga Minggu sore tadi jenazah masih di kamar itu.
Petugas tetap menjaga bandar narkoba yang sudah tak bernyawa itu. Namun hingga siang tadi, keluarga Sendi belum juga mengetahui. Satidaknya hingga sore tadi tak ada keluarganya yang menjemput mayatnya.
Reskoba Polrestabes Surabaya tidak saja berhenti pada barang bukti yang ditransaksikan di Jl Dr Soetomo Sidoarjo tadi malam. Petugas mengembangkannya dengan menyeret Melisa ke salah satu rumahnya di daerah Prigen, Kabupaten Pasuruan.
Petugas dini hari itu juga menyisir ke rumah Melisa di daerah Prigen. Anggota Reskoba pun kembali menemukan barang bukti narkoba. Paket sabu seberat 113,92 gram diamankan.
Petugas juga mengangkut barang bukti lain berupa timbangan elektrik, buku rekap transaksi penjualan dan belasan bendel plastik klip. "Sudah 9 kali saya transaksi dengan Sendi," aku Melisa.
Perempuan inilah yang dilibatkan Sendi untuk menembus Lapas. Kapolrestabes Surabaya Muh Iqbal menyatakan bahwa Melisa juga yang mendapat tugas khusus mensuplai narkoba ke Lapas. Salah satunya adalah Lapas Porong.
Total transaksi yang dilakukan Melisa dengan Sendi selama ini sangat rapi. Bahkan Melisa seakan mendapat tugas khusus untuk mensuplai narkoba ke Lapas.
Tidak main-main, total narkoba yang dipasok Sendi ke anak buah perempuan itu mencapai 11 kg sabu. Sementara untuk narkoba jenis ekstasi yang sudah disuplai ke Melisa sebanyak 10.000 butir ekstasi.
Selain Melisa, Nizar adalah masuk jaringan Sendi sejak lama. Saat ini, keduanya dijebloskan di tahanan Polrestabes Surabaya. Sementara sang bandar, Sendi mayatnya menunggu diambil keluarga.
Dari tiga orang ini, barang bukti yang disita polisi adalah 5 paket sabu dengan berat total 308,28 gram, 17 paket plastik berisi ekstasi dalam berbagai bentuk dan jenis dengan total 1.624 butir, tiga buah Buku Rekap Transaksi narkoba, satu unit timbangan elektrik, dan dua plastik berisi belasan bendel plastik klip kecil, sebilah senjata tajam, selembar kartu ATM, dan uang tunai Rp 20 juta.
Minggu, 27 Agustus 2017
POLISI TEMBAK MATI BANDAR NARKOBA
Polisi Tembak Mati Bandar Narkoba Jaringan Lapas, Di Pasuruan. Selain Bandar, Polisi Juga Menangkap Sepasang Kekasih Yang Menjadi Kurir Narkoba.
TNI Gagalkan Penyelundupan 10 Kg Narkoba di Perbatasan RI-Malaysia
Aparat menggagalkan penyelundupan 10 kilogram narkoba jenis sabu di Dusun Batang Tarang, Kecamatan Batang Tarang, Kabupaten Sanggau Kalimantan Barat, Minggu ( 27/8/2017). Penyelundup narkoba bernama Petrus Hanter berhasil ditangkap meskipun sempat meloloskan diri.
Operasi ini dilakukan oleh tim gabungan, yaitu satuan tugas pengamanan perbatasan (Satgas Pamtas) RI-Malaysia dari Yonif 642/Kps dengan Bea Cukai Entikong, Kabupaten Sanggau, Kalbar.
Kepala Penerangan Kodam XII Tanjungpura Kolonel Infanteri Tri Rana Subekti menjelaskan, pengungkapan ini berawal dari adanya informasi terkait dengan penyelundupan narkoba lintas provinsi melalui perbatasan darat.
Aparat lantas melakukan sweeping darat pada tanggal Sabtu (26/8/2017) kepada setiap pengendara yang melintasi pos pengamanan perbatasan.
“Operasi rutin ini dilakukan mulai hari Sabtu pukul 18.00 WIB hingga Minggu pukul 05.00 WIB keesokan harinya. Adanya Informasi penyelundupan Narkoba tersebut ditindaklanjuti dengan operasi pemeriksaan rutin yang dilakukan terhadap setiap kendaraan yang melintas di pos komando utama lintas batas," kata Tri Rana dalam keterangan tertulisnya, Senin (29/8/2017).
Menurut Tri, personel Satgas Pamtas dibagi menjadi tiga kelompok untuk menutup jalan-jalan pelolosan yang mungkin digunakan serta memperketat pemeriksaan setiap kendaraan yang melintas di depan Posko utama.
Pada Minggu (27/8/2017) pukul 04.00 WIB, Petrus Hanter berangkat menuju depan PLN Balai Karangan untuk mengambil narkoba sebanyak 10 kilogram dari Chandra, yang bertempat tinggal di Kampung Bantan.
Pukul 07.03 WIB anggota Satgas berpapasan dengan Petrus Hanter di jalan Lintas Batang Tarang. Namun, Petrus Hanter berusaha melarikan diri dengan cara menyalip mobil yang dikendarai oleh Pasi Intel Satgas Pamtas Yonif 642/Kps.
Beruntung, mobil yang dikendarai oleh Pasi Intel berhasil menghadang Petrus untuk kabur. Akhirnya, mobil yang dikendarai Petrus Hanter masuk ke bahu jalan dan terjatuh ke jurang.
Petrus masih mencoba melarikan diri ke arah hutan, namun berhasil dilumpuhkan oleh Pasi Intel Satgas Yonif 642/Kps beserta Praka Iwan. Petrus selanjutnya dibawa ke Jalan Raya Batang Tarang dan selanjutnya dibawa ke pos pengamanan perbatasan untuk diperiksa lebih lanjut.
"Untuk pelaku masih dalam pendalaman kasus dan akan segera dilimpahkan ke kepolisian untuk proses hukumnya”, ujar Tri Rana.
Sabtu, 26 Agustus 2017
BNNK CIANJUR MENJADI NARASUMBER PADA KEGIATAN KULIAH KERJA MAHASISWA UNIVERSITAS SURYAKENCANA
Badan Narkotika Nasional Kabupaten Cianjur memenuhi undangan menjadi narasumber pada kegiatan seminar yang di selenggarakan oleh Kelompok Kuliah Kerja Mahasiwa (KKM) Universitas Suryakencana pada hari Jum’at, 25 Agustus 2017, di SMK Al-fathonah Desa Ciharashas, Kecamatan Cilaku, dengan tema “Selamatkan Generasi Muda dari Bahaya Narkoba”.
Kegiatan tersebut diikuti oleh kelas 10 dan 11 dari berbagai jurusan program. Pada kesempatan tersebut kepala Sekolah SMK Al-Fathonah Dede Supriadi, S.Pd., M.Si. memberikan sambutan dan apresiasi terhadap program yang dibawakan oleh Mahasiswa dengan mengundang BNN Kabupaten Cianjur sebagai Narasumber untuk memberikan wawasan dan pengetahuan kepada Siswa/i tentang bahaya Narkoba kepada siswa/i disekolahnya, dilanjutkan pemberian materi yang disampaikan oleh penyuluh Narkoba BNN Kabupaten Cianjur, Jojo johari, SH mengenai Pemahaman Dampak dan Bahaya Penyalahgunaan Narkoba, meliputi pengertian Narkoba, efek Narkoba serta dampak dari penyalahgunaan Narkoba bagi pelajar. Dan bagaimana upaya pencegahannya. Sebagaimana yang diamanatkan oleh Kepala BNN Kabupaten Cianjur Dr. Basuki, SH., MH.
Perlunya pemahaman sejak dini akan bahayanya Narkoba bagi generasi muda sebagai penerus bangsa. Kegiatan ini juga merupakan bentuk kepedulian mahasiwa terhadap permasalahan sosial khususnya penyalahgunaan dan peredaran Narkoba di kalangan pelajar khususnya, dengan kegiatan ini berharap ada sedikit pengetahuan yang di dapat pelajar guna mencegah penyalahgunaan Narkoba dan merupakan bentuk kegiatan mahasiswa Universitas Suryakencana Cianjur dalam upaya menciptakan lingkungan bersih Narkoba.
4 Hektare Ladang Ganja Ditemukan di Mandailing Natal
Ladang ganja seluas 4 hektare di Mandailing Natal, Sumut. (Istimewa)
Petugas gabungan dari BNN, polisi, dan TNI menemukan ladang ganja seluas 4 hektare di Mandailing Natal, Sumatera Utara (Sumut). Ada sekitar 40 ribu pohon ganja yang ditemukan.
"Temuan ladang ganja ini tepatnya di Desa Simandolam, Kecamatan Kotanopan Timur," kata Kepala BNN Kabupaten Mandailing Natal AKBP Saharudin Bangko. Sabtu (26/8/2017).
Bangko mengatakan ladang ganja tersebut ditemukan pada Jumat (25/8) kemarin. Butuh waktu 3 jam bagi petugas untuk menjangkau lokasi itu.
"Tim berjalan kaki melewati pegunungan baru sampai di lokasi," ujarnya.
Setiba di lokasi, petugas kemudian memusnahkan tanaman itu dengan cara dibakar. Namun pemilik lahan tersebut tidak ditemukan.
"Untuk barang bukti yang dibawa ke kantor itu 10 batang ganja (untuk pemeriksaan lebih lanjut)," katanya.
"Temuan ladang ganja ini tepatnya di Desa Simandolam, Kecamatan Kotanopan Timur," kata Kepala BNN Kabupaten Mandailing Natal AKBP Saharudin Bangko. Sabtu (26/8/2017).
Ladang ganja seluas 4 hektare di Mandailing Natal, Sumut. (Istimewa) |
Bangko mengatakan ladang ganja tersebut ditemukan pada Jumat (25/8) kemarin. Butuh waktu 3 jam bagi petugas untuk menjangkau lokasi itu.
"Tim berjalan kaki melewati pegunungan baru sampai di lokasi," ujarnya.
Ladang ganja seluas 4 hektare di Mandailing Natal, Sumut. (Istimewa) |
Setiba di lokasi, petugas kemudian memusnahkan tanaman itu dengan cara dibakar. Namun pemilik lahan tersebut tidak ditemukan.
"Untuk barang bukti yang dibawa ke kantor itu 10 batang ganja (untuk pemeriksaan lebih lanjut)," katanya.
NARKOBA DIPASOK DARI KEBUPATEN BENGKALIS
Hasil pemeriksaan Polisi, diketahui, Kelima Tersangka jaringan Pengedar Narkoba antar Provinsi, mendapatkan Narkoba dari Kabupaten Bengkalis. Polresta Pekanbaru akan memburu Pemasok Barang Haram tersebut kepada para tersangka.
Jumat, 25 Agustus 2017
Narkoba Malaysia Berhasil Diamankan Polsek Bantan
Tim opsnal Polsek Bantan yang dipimpin oleh Kapolsek Bantan AKP. Yuherman, S. Psi dan Kanit Reskrim Iptu Aprinaldi, SH berhasil melakukan penangkapan terhadap 2 (dua) orang diduga pelaku penyalahgunaan narkotika jenis sabu-sabu dengan inisial H (25) warga Jln. Penampar RT 10 RW 07 Desa Jangkang Kec. Bantan Kab. Bengkalis dan BZ (26) warga Jln. Penampar RT 10 RW 07 Desa Jangkang Kec. Bantan Kab. Bengkalis. Kamis (24/8).
Kedua pelaku diamankan Polsek Bantan karena Memiliki, menyimpan, menguasai dan atau sebagai perantara dalam jual beli Narkotika jenis sabu sabu di Jl. Penurun Desa Muntai Barat Kec. Bantan Kab. Bengkalis.
Dari para pelaku diamankan barang bukti 2 (Dua) paket besar diduga Narkotika jenis sabu-sabu seberat 2 kg, 5 (lima) bungkus plastik bening yang berisikan Extacy merek YSL dengan rincian keseluruhannya berjumlah 1988 butir, 1 unit Sepeda motor merek honda Vario warna merah BM 4783 DD, 2 (dua) buah ATM BRI, 2 (dua) buah ATM Mandiri, 1 (satu) buah ATM BCA, 1. (Satu) unit hp Samsung lipat warna hitam, 1 (satu) unit hp Samsung S5, 1 (satu) unit hp Nokia dan 1 (satu) unit hp Lenovo.
Kabid Humas Polda Riau Guntur Aryo Tejo melalui Paur Subbag Humas Polres Bengkalis membenarkan penangkapan terhadap kedua pelaku.
" Penangkapan pelaku di pimpin langsung Kapolsek Bantan AKP Yuherman S.Psi bersama Kanit Reskrim Iptu Apriandi SH pada hari Kamis (24/8) sekutar pukul 20.30 wib melakukan penangkapan terhadap 2 orang tersangka yang diduga membawa Narkotika jenis sab- sabu di Desa Muntai Bara, yang mana pada saat itu sedang melintas dengan menggunakan sepeda motor Honda Vario BM 4783 DD dan pada saat ditangkap tersangka mencoba membuang bungkusan plastik ke parit dan setelah dicek ternyata plastik tersebut berisikan narkoba jenis sabu dengan berat sekitar 2 kg dan extacy merek YSL sebanyak 1988 butir, dan berdasarkan pengakuan pelaku bahwa barang tersebut berasal dari Malaysia dan rencananya barang tersebut akan dibawa ke Pekanbaru," terang Kabid Humas Polda Riau Guntur Aryo Tejo.
Selanjutnya tersangka dan barang bukti dibawa ke Polsek Bantan untuk penyidikan selanjutnya
KAPOLRI Beri Penghargaan 11 Polisi Ungkap Narkoba hingga Begal
Kapolri Jenderal Tito Karnavian memberikan penghargaan kepada 11 anggota polisi yang dinilai berprestasi di Sumatera Utara (Sumut). Mereka dapat penghargaan kerena mengungkap kasus narkoba, pembunuhan hingga begal.
Penghargaan itu diberikan disela-sela kunjungan Tito ke Kabupaten Karo, Kamis (24/8/2017). Tito ingin menciptakan iklim yang baik di jajarannya.
"Saya ingin ciptakan iklim reward. Anggota mau kerja berprestasi saya dukung reward. Saya ingin ada iklim prestasi, tak hanya bidang reserse, Binmas juga," kata Tito.
Tito meminta jajarannya untuk mengintensifkan penegakan hukum kasus narkoba, premanisme. Selain itu, konflik sosial juga harus ditekan dan jangan sampai terjadi.
"Saya sangat atensi kasus konflik sosial. Galakkan Binmas, lalkukan kegiatan budaya dan olahraga," tutupnya.
11 orang tersebut yakni Kasat Reskrim Polrestabes Medan AKBP Febriansyah, Kasat Reserse Narkoba Polrestabes Medan AKBP Ganda Saragih, Kasubdit I Ditresnarkoba Polda Sumut AKBP Leo Siagian, Kasubdit II Ditresnarkoba Polda Sumut AKBP Hilman Wijaya.
Kemudian Kasubdit II Ditreskrimsus Polda Sumut AKBP Herzoni Saragih, Kasubdit III Ditreskrimum Polda Sumut AKBP Faisal Napitupulu.
Setelah itu, Kapolsek Medan Baru Kompol Hendra Eko Triyulianto, Kapolsek Sunggal Kompol Daniel Marunduri, Kapolsek Delitua Kompol Wira Prayatna, Kapolsek Medan Timur Kompol Wilson Pasaribu dan Kasat Reskrim Polres Asahan AKP Bayu Putra Samara.
Patut Di Duga Malaysia Dukung Masuknya Narkoba ke Indonesia
Kepala Badan Narkotika Nasional
(BNN) Komjen Budi Waseso (Buwas) mengeluarkan sebuah pernyataan mengejutkan di
kantor BNN tanggal 23 Agustus 2017. Beliau menduga Malaysia mendukung masuknya
narkoba ke Indonesia. Pernyataan tersebut disampaikan beliau terkait dengan
operasi penangkapan sindikat narkoba Malaysia di Aceh dan Kalimantan. Ini
kutipan dari ucapan beliau :
Peredaran ini, saya bisa katakan
bahwa Malaysia masih mensupport lancarnya narkotika masuk negara kita
Salah satu hal yang dipermasalahkan
oleh Buwas adalah adanya semacam pembiaran yang dilakukan pihak berwenang
Malaysia terhadap kelompok-kelompok tertentu yang beroperasi di daerah
perbatasan. Bahkan, kelompok-kelompok tersebut dapat dengan mudah mengatur jumlah
yang akan dikirimkan ke tiap daerah. Berikut kutipan dari ucapan beliau terkait
hal ini.
Negara tetangga kita memang sengaja
membiarkan para bandar narkoba mereka yang steril dari menggunakan narkoba
untuk memanfaatkan daerah perbatasan. Mereka juga memasukkan tidak dalam jumlah
besar sekaligus, satu ton bisa dibagi ke beberapa titik di wilayah Indonesia
Apakah Kecurigaan Buwas Berlebihan?
Pasti ada pihak yang pro dan kontra
terkait pernyataan beliau. Apalagi, beliau berani mengatakan negara tetangga
kita mendukung masuknya narkoba ke Indonesia. Ada beberapa hal yang mungkin
bisa jadi pertimbangan untuk menentukan apakah pernyataan beliau tepat atau
tidak.
Di dalam salah satu artikel sumber
di atas disebutkan bahwa diperkirakan setidak-tidaknya ada 100 kilogram narkoba
masuk ke Indonesia setiap bulan. Jumlah yang masuk itu tidak sedikit dan
seharusnya tidak sulit bagi pihak berwenang negara tetangga untuk menangkap dan
memusnahkannya sebelum bisa dibawa ke Indonesia.
Selain itu, Buwas juga mengungkap
bahwa beliau kesulitan untuk menangkap kelompok-kelompok tersebut ketika datang
ke negara tetangga. Setelah berkoordinasi dengan pihak berwenang di sana,
tiba-tiba saja kelompok itu menghilang. Tentu, kita akan menduga ada oknum yang
terlibat dalam hilangnya kelompok tersebut, karena tidak mungkin sebuah
kelompok yang telah diincar tiba-tiba menghilang begitu saja.
Sulitnya memberantas narkoba
Ada satu hal penting yang dapat
disimpulkan dari pernyataan Buwas, yaitu sungguh sulit untuk memberantas
peredaran narkoba. Alasannya, tidak setiap negara memiliki komitmen yang sama
untuk memberantas barang haram tersebut. Contoh negara yang sangat keras
terhadap para bandar barang haram tersebut adalah Filipina. Sayangnya,
kebijakan yang diambil oleh Presiden Filipina, Rodrigo Duterte, justru mendapat
penolakan dari politisi dan masyarakatnya sendiri. Alasan para penolak itu
adalah banyak orang yang tewas atau meninggal selama pelaksanaan kebijakan
tersebut.
Tentunya kita tidak berharap semua
negara seperti Filipina, tapi seharusnya setiap negara menggunakan pedoman yang
sama dalam memberantas peredaran narkoba, untuk yang diedarkan di dalam negeri
dan yang diedarkan keluar dari negara mereka. Kalau mereka melarang peredaran
narkoba di negaranya, maka mereka juga harus menghentikan aksi kelompok-kelompok
yang mendistribusikan barang haram tersebut ke negara-negara lain. Jangan lah
menggunakan prinsip “Biarkan pihak lain rusak, asalkan kita tidak”. Negara
tetangga kita diduga dengan sengaja membiarkan kelompok-kelompok itu untuk
beraksi di perbatasan. Tujuannya sudah jelas, biarkan barang haram tersebut
merusak masyarakat di negara lain, terutama masyarakat Indonesia.
Hal lain yang mungkin layak kita
perhatikan bahwa dulu banyak pengedar yang tertangkap di bandara-bandara
Indonesia saat datang dari penerbangan internasional. Ini menimbulkan tanda
tanya, kenapa barang haram tersebut bisa lolos pemeriksaan sebelum terbang dari
bandara asal. Apakah tidak ada pengawasan ketat di bandara terkait atau ada
oknum-oknum yang bermain?
Salah satu tantangannya adalah uang.
Bisnis haram ini memang menghasilkan uang yang tidak sedikit, tetapi merusak
kehidupan para penggunanya. Para pelaku menggunakan iming-iming uang untuk
melicinkan aksi mereka. Bahkan, pelaku
berani mencoba untuk menyuap petugas dengan nominal 10 M rupiah saat
ditangkap dalam operasi penangkapan yang dilakukan di Kalimantan. Bagi para
mafia untuk tersebut mungkin bisa mereka relakan, tapi bagi mereka yang digoda
uang tersebut layaknya uang jatuh dari langit.
Kesimpulan
Ternyata, memang sulit untuk
menemukan sebuah negara yang benar-benar mau memberantas narkoba. Lebih banyak
mirip dengan di Indonesia. BNN tegas tapi tetap saja ada oknum yang membantu
para mafia untuk beraksi. Di Indonesia, sudah masuk penjara pun masih bisa
mengendalikan bisnisnya.
Sumber
Sumber
Kamis, 24 Agustus 2017
Narkoba ke Aceh 962 Kasus Dengan 1.344 Tersangka sejak Januari sampai Agustus 2017
Sejak pertengahan Januari sampai Agustus 2017, Polda Aceh dan jajarannya menanggani 962 kasus narkoba. Jumlah tersangka dari 962 kasus tersebut 1.344 orang.
Pernyataan itu disampaikan Kapolda Aceh Irjen Pol Drs Rio S Djambak pada acara pemusnahan barang bukti narkoba Ditreknarkoba Polda Aceh, Kamis (24/8/2017) pagi.
Menurut jenderal bintang dua itu, dari 962 kasus narkoba itu, sebanyak 1.856 kilogram ganja kering disita. Lalu 30.319,24 gram sabu-sabu, 3.664 butir ekstasi dan 49,5 hekater ladang ganja dimusnahkan.
Sedangkan periode yang sama pada tahun 2016, Polda Aceh dan jajarannya menangani 1.080 kasus. Jumlah tersangka 1.440 orang beserta barang bukti.
Irjen Rio menyebutkan hasil analisa dan evaluasi terhadap penanganan kasus penyalahgunaan narkoba oleh Polda Aceh dan jajarannya selama dua tahun menunjukkan penurunan, baik jumlah kasus maupun tersangka.
Tapi, harus tetap menjadi isyarat perlunya kerja keras aparat penegak hukum, stakeholders serta seluruh lapisan masyarakat agar sama-sama menanggulangi kejahatan penyalahgunaan narkoba yang menjadi musuh bersama.(*)
Rabu, 23 Agustus 2017
BUWAS akan Tembak Mati Anggota BNN Jika Terima Suap Dari Bandar Narkoba
Kepala BNN Komjen. Pol. Drs. Budi Waseso tidak main urusan Narkotika, Ia menegaskan, dirinya akan menembak mati anak buahnya jika diketahui bermain dengan narkoba. Bahkan, ia siap ditembak apabila terlibat dengan barang haram tersebut.
“Apabila ada petugas saya yang nerima narkoba dan uang suap dari bandar narkoba, akan saya tembak mati, saya juga siap (ditembak),” tegas Budi Waseso di Gedung BNN, Jakarta Timur, Rabu (23/8) seperti diberitakan oleh Merdeka.com
Katanya, senjata api yang dibekali anggota untuk memberantas peredaran narkoba di Indonesia.
“Senjata ini disiapkan oleh negara untuk memberantas narkoba di Indonesia,” katanya.
Hal ini diutarakan Budi Waseso terkait anggotanya yang menolak disuap oleh bandar narkoba asal Malaysia sebanyak Rp 10 miliar. Di mana saat itu anggota menangkap bandar dengan barang bukti seberat 50,54 kilogram.
“Dua warga negara Malaysia ini berusaha menyuap kita petugas dengan nilai Rp 10 miliar. Sampai petugas pensiun pun mereka tidak akan punya uang sebanyak itu. Jangankan anggota, saya juga kalau pensiun nggak bakal bisa dapat segitu banyak,” ujarnya.
Dia melanjutkan, dengan menolaknya uang Rp 10 miliar itu menandakan anggotanya taat pada hukum.
“Mana kala anggota tidak menyadari pentingnya menyelamatkan bahaya narkoba, maka dia dengan mudah menerima itu. Ini tantangan yang dihadapi di lapangan,” pungkasnya.
Selasa, 22 Agustus 2017
20 Agustus 2017, 01:02 WIB
BNN Sita 40 Kg Sabu asal Malaysia dari 5 Bandar di Aceh Utara
Gibran Maulana Ibrahim - detikNews
Foto: Deputi Pemberantasan BNN Irjen Arman Depari (Ari Saputra)
Jakarta - Badan Narkotika Nasional (BNN) menangkap lima orang tersangka bandar narkotika di Aceh Utara. Dari tangan tersangka, BNN berhasil menyita 40 Kg sabu yang diduga diselundupkan dari Malaysia.
Berdasarkan keterangan tertulis yang diterima dari Deputi Pemberantasan BNN Irjen Arman Depari, Sabtu (19/8/2017), penangkapan itu dilakukan pihaknya pada Jumat (18/8) lalu, sekitar pukul 19.30 WIB. Lima tersangka yang ditangkap bernama Musriadi, Zulkifli, Tajul M, Sayful, dan Dahlan. Mereka ditangkap di Jl Medan, Banda Aceh, Panton Labu, Aceh Utara.
Barang bukti yang berhasil diamankan selain sabu 40 Kg ialah 1 unit mobil Mitsubishi Strada, 1 unit mobil Juke, dan 6 unit HP. Setelah dilakukan penangkapan, diketahui kelima pelaku itu punya peran masing-masing.
"Setelah penangkapan kurir, berkembang kepada Tajul sebagai transporter. Berdasarkan keterangan Tajul bahwa sabu tersebut dari Malaysia, dibawa oleh ABK dengan kapal milik Tajul, sedangkan narkotika jenis sabu tersebut milik Dahlan," kata Depari.
"Selanjutnya, tim melakukan penangkapan terhadap Dahlan. Saat ini, (kasus) masih dalam pengembangan," pungkas Depari
Berdasarkan keterangan tertulis yang diterima dari Deputi Pemberantasan BNN Irjen Arman Depari, Sabtu (19/8/2017), penangkapan itu dilakukan pihaknya pada Jumat (18/8) lalu, sekitar pukul 19.30 WIB. Lima tersangka yang ditangkap bernama Musriadi, Zulkifli, Tajul M, Sayful, dan Dahlan. Mereka ditangkap di Jl Medan, Banda Aceh, Panton Labu, Aceh Utara.
Foto: Dok. Istimewa |
"Setelah penangkapan kurir, berkembang kepada Tajul sebagai transporter. Berdasarkan keterangan Tajul bahwa sabu tersebut dari Malaysia, dibawa oleh ABK dengan kapal milik Tajul, sedangkan narkotika jenis sabu tersebut milik Dahlan," kata Depari.
"Selanjutnya, tim melakukan penangkapan terhadap Dahlan. Saat ini, (kasus) masih dalam pengembangan," pungkas Depari
Minggu, 20 Agustus 2017
40 Kg Sabu asal Malaysia di Sita BNN dari 5 Bandar di Aceh Utara

Badan Narkotika Nasional (BNN) menangkap lima orang tersangka bandar narkotika di Aceh Utara. Dari tangan tersangka, BNN berhasil menyita 40 Kg sabu yang diduga diselundupkan dari Malaysia.
Berdasarkan keterangan tertulis yang diterima dari Deputi Pemberantasan BNN Irjen Arman Depari, Sabtu (19/8/2017), penangkapan itu dilakukan pihaknya pada Jumat (18/8) lalu, sekitar pukul 19.30 WIB. Lima tersangka yang ditangkap bernama Musriadi, Zulkifli, Tajul M, Sayful, dan Dahlan. Mereka ditangkap di Jl Medan, Banda Aceh, Panton Labu, Aceh Utara.
Barang bukti yang berhasil diamankan selain sabu 40 Kg ialah 1 unit mobil Mitsubishi Strada, 1 unit mobil Juke, dan 6 unit HP. Setelah dilakukan penangkapan, diketahui kelima pelaku itu punya peran masing-masing.
"Setelah penangkapan kurir, berkembang kepada Tajul sebagai transporter. Berdasarkan keterangan Tajul bahwa sabu tersebut dari Malaysia, dibawa oleh ABK dengan kapal milik Tajul, sedangkan narkotika jenis sabu tersebut milik Dahlan," kata Depari.
"Selanjutnya, tim melakukan penangkapan terhadap Dahlan. Saat ini, (kasus) masih dalam pengembangan," pungkas Depari
Berdasarkan keterangan tertulis yang diterima dari Deputi Pemberantasan BNN Irjen Arman Depari, Sabtu (19/8/2017), penangkapan itu dilakukan pihaknya pada Jumat (18/8) lalu, sekitar pukul 19.30 WIB. Lima tersangka yang ditangkap bernama Musriadi, Zulkifli, Tajul M, Sayful, dan Dahlan. Mereka ditangkap di Jl Medan, Banda Aceh, Panton Labu, Aceh Utara.
Foto: Dok. Istimewa |
"Setelah penangkapan kurir, berkembang kepada Tajul sebagai transporter. Berdasarkan keterangan Tajul bahwa sabu tersebut dari Malaysia, dibawa oleh ABK dengan kapal milik Tajul, sedangkan narkotika jenis sabu tersebut milik Dahlan," kata Depari.
"Selanjutnya, tim melakukan penangkapan terhadap Dahlan. Saat ini, (kasus) masih dalam pengembangan," pungkas Depari
Sabtu, 19 Agustus 2017
Bandar Narkoba dari Aceh Menyamar Jadi Pejabat
Lagi lagi 3 warga Aceh yang ditangkap Polda Sumut terkait sindikat narkoba internasional ditengarai menggunakan modus baru.
Direktur Resnarkoba Polda Sumut Kombes Hendri Manurung mengatakan para pelaku menyamar sebagai pejabat.
Dugaan ini disimpulkan Hendri merujuk mobil yang digunakan pelaku milik pribadi dan bertipe mewah, yakni Toyota Land Cruiser Prado.
"Kasus-kasus sebelumnya pelaku menggunakan mobil rental, dan tidak pernah berjenis mewah," kata Hendri, Sabtu (19/8/2017).
Ia menduga pelaku ingin memunculkan kesan kalau pengendara mobil merupakan pejabat dari Aceh.
"Mereka ingin menunjukkan kesan sebagai pejabat, sehingga tidak akan distop polisi di jalan," ulasnya.
Dijelaskannya, mobil itu dibeli tersangka di salah satu showroom di Jalan Nibung Raya, Medan Petisah.
"Belum lunas, masih ada cicilannya," tukasnya.
Ketiga tersangka tersebut, Musliadi M Nur (39), Bahtiar (29) dan Yossi Andrian Sahputra (30) ditangkap di Besitang, Langkat, Kamis (17/8/2017) malam.
Belakangan Musliadi tewas ditembak karena diklaim berusaha merebut senjata polisi.
Rabu, 16 Agustus 2017
MoU antara Pemerintah Kota Ternate dengan BNNP Malut
Penandatanganan nota kesepahaman antara Pemerintah Kota Ternate dengan BNNP Malut sebagai bentuk upaya pemerintah kota Ternate untuk menyelamatkan masyarakatnya dari bahaya penyalahgunaan narkoba dilaksanakan di ruang rapat gedung DPRD Kota Ternate pada Rabu, (16/08).
Penandatanganan diawali dengan pidato walikota Ternate dalam rangka penyampaian nota keuangan dan rancangan APBD Tahun Anggaran 2017 pada rapat paripurna ke-14 DPRD Kota Ternate masa persidangan ke-dua tahun 2017.
Setelah paripurna, penandatanganan MoU Antara Walikota Ternate, Dr. Burhan Abdurrahman MM, sebagai pihak pertama dengan Kepala BNNP, Brigjen Pol. Drs. Richard M. Nainggolan, MM., MBA., sebagai pihak kedua disaksikan pimpinan sidang paripurna, Mubin Wahid, SH dan sejumlah anggota DPRD Kota Ternate bersama pejabat SKPD dilingkungan kota Ternate.
Kepala BNNP Maluku Utara pada kesempatan memberikan sambutan menyampaikan tindak lanjut dari penandatanganan MoU dengan Pemkot Ternate ini dengan diberlakukannya materi Pencegahan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba masuk dalam kurikulum dari Tingkat TK/PAUD sampai SMP.
"Jika konsisten kurikulum P4GN diberlakukan mulai dari tingkat TK/PAUD sampai SMP maka dalam 12 tahun kedepan 50 persen masyarakat kota Ternate bebas dari bahaya penyalahgunaan narkoba, " tegas Kepala BNNP yang disambut dengan tepuk tangan peserta sidang paripurna.
Selain itu, tindak lanjut MoU juga, walikota Ternate telah mengesahkan 76 (tujuh puluh enam) relawan anti narkoba ASN dilingkungan pemerintah kota Ternate.
Isi perjanjian kerjasama ini tentang pengembangan materi bahan ajar bahaya penyalahgunaan narkotika mulai tingkat PAUD/ TK, SD, SMP serta pengembangan kegiatan kokurikuler dan ekstra kurikuler yang berorientasi pada Pencegahan Penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika
Selasa, 15 Agustus 2017
Langkah Anda Lakukan Kepada Pengguna Narkoba
Sebagai penggiat anti Narkoba Le Putra yang juga Wakil Ketua Umum Gema Nusantara Anti Narkoba (Gentara) berbagi tips tentang pentingnya ngobrol dengan kerabat pengguna narkoba, jangan musuhi dia, rangkul dia dengan bersahabat. Hal ini di sampaikan dengan kelompok FGD di kawasan Mangga besar, Minggu (13/8/2017).
Setiap orang tentu rentan menggunakan narkoba, termasuk para kerabat. Nah, sebelum terlambat ada hal yang bisa Anda lakukan.
Menurut Le Putra, ketika memiliki kenalan atau kerabat yang menggunakan narkoba, Anda dapat mengajak pengguna narkoba untuk bicara baik-baik. Namun, sebelum melakukan itu perlu melakukan observasi terlebih dahulu apakah pengguna sudah sangat terpengaruh narkoba atau belum.
Bila seseorang yang sudah sangat terpengaruh atau dibawah pengaruh narkoba, tidak akan sedikit pun peduli dengan lingkungan di sekitar. Termasuk keluarga dekatnya.
"Kalau belum sangat terpengaruh, bisa diajak ngomong baik-baik. Jangan langsung dilarang seperti 'Stop, kamu nggak boleh pakai ini' karena bisa membuat dia makin ingin menggunakannya," jelas Le Putra.
Bila kerabat anda pengguna narkoba yang masih terkontrol, maka ajak pengguna narkoba ngobrol atau bertukar pikiran, seperti 'apa sih yang kamu cari? Apa yang kamu tidak dapat perhatian yang cukup di rumah sehingga pakai narkoba ? Pertimbangkan risiko kalau kamu pakai narkoba, kalau lebih besar risikonya apakah bagus ?.
Selain itu, pengguna narkoba sebaiknya ditanya 'Bagaimana cara atau apa sulitnya meninggalkan narkoba?'. Karena biasanya masyarakat awam tidak paham masalah yang terjadi pada seorang pecandu.
"Dan kalau sudah benar-benar terpengaruh seperti tidak peduli lingkungan dan menjual barang-barang maka kita harus bilang 'stop, jangan!' dan harus langkah advokasi non. Litigasi, yaitu bawa dia untuk di rehabilitasi," pungkas Le Putra
Senin, 07 Agustus 2017
ASN Aceh Besar Harus Bersih Narkoba
Ketua DPD Gema Nusantara Anti Narkoba (Gentara) Kabupaten Aceh Besar T. Dasya Putra, MAP yang didampingi Pengurus DPW Gema Nusantara Anti Narkoba (Gentara) Provinsi Aceh Erwin Ananda melakukan audiensi kepada Wakil Bupati Aceh Besar Waled Husaini di kantor Bupati Aceh Besar. Senin (7/8/2017).
Dalam kesempatan pertemuan dengan Wakil Bupati Aceh Besar Waled Husaini tersebut T. Dahsya Kusuma Putra MAP berdiskusi tentang masa depan Generasi bangsa Aceh Besar yang kian banyak terjerumus menjadi penyalahguna narkoba dan menawarkan DPD Gema Nusantara Anti Narkoba (Gentara) program Alternatif Development kepada PEMDA Aceh Besar bagi masyarakat di pedalaman Aceh besar, dimana masyarakat yang awalnya menanam pohon ganja mau menanam pohon lainnya untuk mensejahterakan taraf kehidupan mereka.
Pemda Aceh Besar menyambut baik program yang diajukan dan akan terus berkomitmen dalam pencegahan dan peredaran gelap narkoba, hal ini akan ditindaklanjuti dengan aksi spontan yang di tujukan kepada seluruh Pegawai Kab Aceh Besar untuk melakukan tes urine.
Waled Husaini sangat setuju agar seluruh pegawai yang berada di pemerintahan Aceh Besar harus bebas dari penyalahguna narkoba demi meningkatkan kinerja ASN dilingkungannya.
LEP
Sabtu, 05 Agustus 2017
FOKAN adakan Pelatihan Pemberdayaan Masyarakat Menuju Keluarga Sejahtera
Gema Nusantara Anti Narkoba (Gentara) yang dipimpin Ketua Umum Hendryanto Andrie didampingi 5 orang anggota mengikuti kegiatan "Pelatihan Pemberdayaan Parenting Skill menuju Keluarga Sejahtera" di Lantai 7 Gedung BNN RI Cawang. Jakarta. Sabtu (5/8/2017).
Acara ini di hadiri 55 Ormas anggota FOKAN (Presedium ormas. Dibawah BNN RI). Acara ini dihadiri Direktur Peran Serta Masyarakat BNN RI (Brigjen. Pol. Drs. Sofyan Syarif) mewakil Kepala BNN RI Direktur Pembinaan Pendidikan Keluarga Kementrian Pendidilan dan Kebudayaan RI (Drs. Sukiman), Sekjen FOKAN Drs. Anhar Nasution.
Acara ini dibuka oleh Brigjen. Pol. Drs. Sofyan Syarif dalam sambutannya mengatakan proses pencegahan narkoba itu dimulai dari rumah dan Ibu rumahtangga memeliki peran terdepan.
Materi dalam kegiatan ini meliputi %
- Kebijakan Direktorat Bindikkel.
- Penguatan Pendidikan Keluarga Anti Narmkba.
- Pola Asuh Positif.
- Mendidik Anak di era digital.
Dalam paparannya Direktur Pembinaan Pendidikan Keluarga Kementrian Pendidilan dan Kebudayaan RI Drs. Sukiman yang berjudul Kebijakan Direktorat Bindikkel. Direktorat yang baru 2 tahun terbentuk, memberi penjelasan sepuaran lingkup kerja yang di pimpinnya.
Jumat, 04 Agustus 2017
5 Prajurit Satgas Pamtas Ri-Malaysia Yonif PR 502 Kostrad Terima KPLB
Prestasi kembali ditorehkan oleh prajurit-prajurit satuan jajaran Kostrad. Kali ini prajurit dari Yonif Para Raider 502 / Ujwala Yudha Kostrad dibawah pimpinan Letkol Inf Febi Triandoko, yang sekarang sedang melaksanakan tugas sebagai Satgas Pamtas RI-Malaysia, berupa pemberian penghargaan Kenaikan Pangkat Luar Biasa (KPLB) karena berhasil mengungkap dan menangkap jaringan peredaran narkoba jenis sabu-sabu sebanyak 31,62 KG dan 1988 butir seberat 568,4 gram ekstasi jenis methapetamin pada 30 November 2016 di Desa Badau, Kecamatan Nanga Badau, Kabupaten Kapuas Hulu.
Rabu mendatang (9/8/17), Pangdam XII/Tpr Mayjen TNI Andika Perkasa akan memberikan penghargaan di Pos Perbatasan Nanga Badau kepada lima prajurit dari Satgas Pamtas Yonif Para Raider 502/UY Kostrad berupa Kenaikan Pangkat Luar Biasa kepada Sertu Rosadi, Sertu Leander Wiran dan Kopda Yuda Eka sedangkan dua orang Lettu Inf Tendry Aryo dan Serka Sandi Triyudha diberikan penghargaan berupa rekomendasi sekolah.
Peganugerahan penghargaan dan KPLB tersebut telah diatur dalam UU No. 34 Tahun 2004 tentang TNI, pasal 44 ayat 1 yang berbunyi Prajurit yang mendapat tugas dengan pertaruhan jiwa raga secara langsung dan berjasa melampaui panggilan tugas dapat dianugerahi Kenaikan Pangkat Luar Biasa.
Hal itu dimaksudkan agar prajurit dapat menjadi teladan bagi prajurit lainnya untuk berbuat yang terbaik dalam tugas pengabdian kepada rakyat, bangsa dan negara. Pemberian penghargaan tersebut merupakan langkah nyata dan komitmen yang konsisten dari Pimpinan TNI AD dalam memberikan Reward and Punishment kepada prajurit TNI AD.















Ladang ganja seluas 4 hektare di Mandailing Natal, Sumut. (Istimewa)
Ladang ganja seluas 4 hektare di Mandailing Natal, Sumut. (Istimewa)




Foto: Dok. Istimewa










